Setyo Pamungkas' Weblog

Agent of Change?

Posted in Mahasiswa by Setyo on July 21, 2008

Suatu kritik terhadap gerakan mahasiswa masa kini

Sungguh !!! Saya terkejut sekali dengan beberapa peristiwa tentang aktivitas mahasiswa belakangan ini di berbagai tempat di Indonesia. Perlahan-lahan perasaan saya tersentuh dan miris, bukan karena perjuangan mahasiswa yang luar biasa, namun belakangan mahasiswa lekat dengan tindakan-tindakan yang tidak pantas. Anarkisme, vandalisme, dan perilaku emosional lebih lekat dalam ingatan saya daripada nilai-nilai perjuangan mahasiswa itu sendiri.

Kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) hanyalah salah satu isu yang menjembatani perilaku ‘aneh’ mahasiswa Indonesia. Kenaikan BBM ini pula, menurut saya, hanya sekedar pemanis dan tiket VIP untuk melakukan tindakan yang tidak pantas dilakukan mahasiswa. Beberapa aktivitas mahasiswa yang sangat ekstrim, misalnya demo penentangan kebijakan kenaikan BBM dengan cara membakar ban, menutup akses lalu lintas, membakar mobil/kendaraan plat merah, mengolok-olok pejabat, menyandera truk pengangkut BBM, dan lain sebagainya. Peristiwa ini dilakukan oleh mahasiswa, yang notabene merupakan anggota masyarakat yang terdidik dan memiliki kesadaran akademis lebih tinggi daripada masyarakat kebanyakan. Lalu, mahasiswa juga merupakan komunitas bersahaja dimana masyarakat menggantungkan harapan serta perjuangannya di tangan mereka. Namun sayangnya mahasiswa yang dikedepankan oleh masyarakat ini, melakukan aksi yang dibarengi kekerasan. Kekerasan itu menjelma menjadi tradisi temporer yang (harus) ada dalam setiap aksi mahasiswa menentang kebijakan pemerintah. Pertanyaan yang mengusik alam pikir saya adalah: apakah tindakan tersebut cukup membantu? Dan jawabannya adalah TIDAK, bahkan TIDAK BERGUNA.

Beberapa waktu yang lalu rekan-rekan mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) melakukan aksi menentang kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintah di depan kampus mereka. Aksi tersebut makin membuat saya bersemangat dan bergairah karena mahasiswa bergerak lagi, indah, menegangkan serta memicu saya untuk berpikir kritis. Namun, semakin lama saya mengikuti, aksi mahasiswa yang dilandasi dengan semangat perjuangan membela kepentingan masyarakat tersebut berkembang dengan adanya pemblokiran jalan, penyanderaan seorang anggota Polri, dan terakhir beberapa mahasiswa menjahit mulutnya sendiri. Belum berakhir cerita mahasiswa UKI, kini mahasiswa UNAS yang berdemo dan menentang kebijakan pemerintah. Rasa kagum saya terhadap rekan-rekan mahasiswa di Jakarta harus dibuang jauh-jauh ketika mahasiswa UNAS bentrok dengan Polisi. Kekerasan dimana-mana, plus muncul isu narkoba, minuman keras dan isu lainnya yang melengkapi cerita tragedi mahasiswa. Berita terakhir menyatakan bahwa akan dibentuk komisi khusus yang menyelidiki peristiwa di UNAS, karena diduga ada pelanggaran hak asasi manusia di sana.

Semangat perjuangan, orasi, aksi teatrikal, dan mobilisasi massa adalah beberapa bagian yang membuat saya kagum dan salut atas respon mahasiswa terhadap perubahan di lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, aksi yang berujung pada vandalisme dan anarkisme justru membuat saya semakin membenci gengsi mahasiswa itu. Gengsi yang dibungkus dengan kesombongan status ‘anggota masyarakat terhormat’ alias mahasiswa. Saya mahasiswa, tapi saya paham benar bahwa anarki plus vandalisme adalah sesuatu yang tidak pantas untuk dilakukan oleh mahasiswa. Apalagi untuk menekan pemerintah. Violence wasn’t the solution.

Pihak yang berhadapan

Mahasiswa sebagai ujung tombak perubahan dan perkembangan jaman, memiliki tempat tersendiri dalam komunitas masyarakat. Mahasiswa pula yang menyebabkan keberadaan civil society semakin menguat. Pemikiran dan terobosan orang muda selalu memberikan warna yang beragam dalam mengembangkan komunitas. Mahasiswa pula yang mendorong peradaban menjadi bermetamorfosis, atau dengan kata lain mahasiswa menyokong peradaban ke arah kemajuan. Kesadaran akan makna hak asasi manusia ditelurkan dan diapresiasikan oleh mahasiswa yang kreatif, inovatif, serta kritis. Kesegaran ide dituntut untuk mendewasakan masyarakat yang semakin demokratis. Namun, meskipun mahasiswa merupakan anggota masyarakat yang memiliki peranan yang kuat dalam perubahan sosial, mahasiswa juga diperhadapkan pada beberapa masalah yang mengikis idealismenya. Mahasiswa cepat atau lambat diperhadapkan pada kekuasaan negara (state power). Dengan demikian hubungan antara mahasiswa dengan negara diharapkan dapat mencegah perilaku kesewenang-wenangan negara (abuse of state power).

Di tengah keberadaan masyarakat Indonesia yang memiliki banyak pengangguran, pekerja dengan upah rendah, tiadanya jaminan sosial yang memadai, sulitnya memenuhi kebutuhan kesehatan dan pendidikan, dan lain – lain, mahasiswa dengan kekuatannya diharapkan menjadi tombak yang kokoh untuk menekan pemerintah. Maka dari itu, mehasiswa merupakan pihak yang menjadi bagian dalam pengawasan kinerja pemerintah (check and balance). Kedudukan mahasiswa dengan negara selama selalu berhadapan dan saing memberikan kritikan. Mahasiswa sebagai pemegang nilai idealisme, terkait dengan perkembangannya di dalam kegiatan akademis, berkesempatan untuk mengritik, memberikan pertimbangan kepada negara (pemerintah) dalam rangka mengambil kebijakan yang tepat.

Kedua pihak yang berhadapan, pemerintah di pihak yang satu dengan mahasiswa di pihak yang lain, mempengaruhi perubahan sosial di dalam masyarakat. Berhadap-hadapan bukan berarti tercipta interaksi yang baik dan saling menguntungkan, akan tetapi dalam pandangan saya, beberapa waktu terakhir, hubungan itu justru memberikan dampak yang merugikan. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Di satu sisi, pemerintah menelurkan kebijakan, dan di sisi lain mahasiswa menanggapi. Pemerintah dituntut mahasiswa untuk menciptakan welfare state yang ideal, namun tuntutan ini diajukan dengan cara-cara yang tidak bersahaja. Akhirnya, kedua pihak ini berhadapan dalam suasana yang emosional. Bahkan berujung pada kekerasan yang padat dengan pelanggaran hak asasi manusia.

Mahasiswa dan pemerintah merupakan subyek yang berperan besar dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah mewakili negara dan mahasiswa mewakili masyarakat. Kedua-duanya bertindak dengan caranya masing-masing. Hanya saja sampai dimana usaha-usaha mereka mengandalkan kemampuannya, harus dibarengi dengan kedewasaan bersikap. Kedewasaan sebagai pejabat, maupun kedewasaan sebagai kalangan akademis yang kritis. Susah memang, mempertemukan generasi yang muda kreasinya dengan generasi setengah baya. Kalau diibaratkan dengan pemerintah sebagai ‘ayah’ dan mahasiswa sebagai ‘anak’ maka hubungan mereka sekarang ini sudah berada pada jalur kritis. Sang ayah menentukan masa depan, sementara sang anak menentangnya. Aneh memang, tapi inilah yang terjadi. Jadilah, mereka berhadap-hadapan dengan dampak yang mesti ditanggung bersama.

Aktualisasi kebebasan

Berbagai aktivitas mahasiswa mendengungkan dan mengobarkan semangat perjuangan. Atas nama rakyat mereka yang bergabung dalam aktivitas itu, menyampaikan orasi yang berisikan nilai-nilai penting yang membahani mereka untuk mengkritik kebijakan pemerintah. Sekali lagi, atas nama rakyat, mahasiswa berdemo, beraksi di depan pejabat, beraksi menentang kebijakan, membela rakyat kebanyakan. Hasilnya? Anarki, vandalisme, pemukulan aparat, serta pelanggaran hak asasi manusia.

Gerakan mahasiswa termuktahir hanya menelurkan ekspresi kebebasan yang kosong, tidaklah penting dan tanpa jiwa peruangan. Isu bahwa gerakan mahasiswa dianggap tak lagi murni, dan sudah mulai memaksakan kehendak, semakin menjadi-jadi dengan situasi dan kondisi yang parah di sana-sini. Ekspresi mahasiswa sekarang dilakukan dengan mempraktekkan kekerasan sebagai reaksi balik atas sikap represif aparat keamanan yang diterimanya. Entah sikap represif ini lebih condong kepada mahasiswa, massa, atau aparat. Aktualisasi demokrasi yang tadinya ramah, berdedikasi, berubah menjadi olok-olok, provokasi, dan pelemparan batu. Pentungan, meriam air, serta pemukulan jadi akrab dengan demonstrasi mahasiswa. Yang terluka kemudian, disebut pahlawan. Apalagi yang tewas akan dikenang sepanjang masa. Apakah mereka pahlawan?

Masyarakat juga memiliki dua pandangan umum. Pertama, demonstrasi mahasiswa didukung karena memang merupakan salah satu cara untuk menentang dan menyatakan sikap kepada kebijakan negative pemerintah. Dukungan masyarakat menjadi senjata ampuh untuk memobilisasi massa dalam jumlah yang besar. Masyarakat yang mendukung pergerakan mahasiswa dijadikan tiket yang tiada duanya bagi mahasiswa untuk turun ke jalan.

Kedua, masyarakat menyatakan kecewa dengan perilaku mahasiswa. Demonstrasi yang identik dengan kemacetan lalu lintas, perusakan fasilitas umum, pembakaran ban, serta pukul-memukul, adalah beberapa hal yang sangat dibenci masyarakat. Kekecewaan ini memuncak kala mahasiswa yang berdemo mengagung-agungkan vandalisme sebagai adat yang luhur dalam setiap aksinya. Heran, sungguh heran. Ketika mahasiwa merusak pagar gedung DPR, maka sorak sorai kemenangan membahana. Ketika mahasiwa menutup akses jalan raya, maka kedigdayaan serasa di depan mata. Ketika mahasiswa menjahit bibir dan mogok makan, maka mereka yang berbuat adalah tokoh ternama.

Saya setuju dengan pandangan yang kedua. Sekarang ini yang sangat kental dengan kehidupan demokrasi mahasiswa di Indonesia adalah perilaku negatif. Peristiwa kemacetan parah, sehingga berakibat pada kegiatan masyarakat terhambat, berkurangnya tingkat produktivitas, serta minimnya penghasilan masyarakat. Perasaan takut dan cemas, dimana anggota masyarakat tiba-tiba terhadang amuk mahasiswa yang berdemo, PNS yang dibakar mobil dinasnya, korban-korban kekerasan fisik dari mahasiswa dan polisi yang berjatuhan. Terlebih lagi dengan adanya kerusakan material baik pagar dewan, mobil yang dibakar, maupun fasilitas umum lainnya yang nota bene adalah hasil uang rakyat, semakin tidak mencerminkan tujuan moral perjuangan mahasiswa. Beringas, kejam, membabi-buta. Mahasiwa adalah pemerannya!!!

Aktualisasi kebebasan dalam kerangka negara demokrasi di Indonesia, berubah menjadi aktualisasi kebebasan untuk bertindak dengan kekerasan. Hasrat mengembangkan nilai demokrasi menjadi nafsu untuk mengukir sejarah pergerakan dengan vandalisme. Kebebasan berpendapat adalah semu belaka.

Mahasiwa agent of change

Tidak ada yang menyangkal bahwa mahasiswa, baik di Indonesia, maupun di negara-negara lain di dunia, disebut juga sebagai agent of change. Makna dari sebutan itu lebih kepada eksistensi mahasiswa yang dapat mendorong perubahan sosial. Pemikiran kaum muda adalah gambaran kemajuan bagi masyarakat. Pemikiran-pemikiran tersebut dikonstruksikan dalam bangunan sosial yang kuat dan mendekati ideal. Mahasiswa bergerak untuk mengadakan perubahan sosial, sehingga arah dan tujuan masyarakat menyesuaikan dengan perkembangannya. Sebagai agen, mahasiswa berkampanye untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan fungsi dan peran masyarakat terhadap kelangsungan bangsa.

Pendidikan adalah senjata yang ampuh untuk memerangi kebodohan. Perguruan tinggi adalah sumber utama mahasiswa mengembangkan dirinya, baik secara akademis melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya, namun juga meningkatkan kepekaan sosial mahasiswa terhadap lingkugan sekitarnya. Mahasiswa menyerap ilmu dari kampus, kemudian diaplikasikan pada perilakunya di dalam masyarakat. Intepretasi dan implementasi ilmu pengetahuan yang didapatnya secara tepat adalah harapan masyarakat.

About these ads
Tagged with:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: