Setyo Pamungkas' Weblog

Kekuatan dan Kelemahan Teori hukum Alam

Posted in Hukum (Law) by Setyo on September 26, 2011

Prinsip utama hukum alam adalah hukum itu berlaku secara universal dan bersifat pribadi. Adapun jenisnya antara lain dibedakan menjadi dua: hukum alam yang bersumber dari Tuhan, dan hukum alam yang bersumber dari rasio manusia. Adapun Teori hukum Thomas Aquinas, menyatakan bahwa menurutnya hukum ada 4, yaitu : Lex aeterna</em> (ratio Tuhan, bukan indra manusia); Lex divina (bagian ratio Tuhan = indra manusia); Lex naturalis (penjelmaan lex aeterna dalam ratio manusia); dan Lex positivis (hukum yang berlaku, yang merupakan pelaksanaan hukum alam, disesuaikan dengan keadaan dunia). Jadi hal inilah yang kemudian dipahami sebagai universalisasi hukum yang dianggap menjadi kekuatan dari prinsip-prinsip pemikiran hukum alam. Universalisasi hukum berdampak pada validitas norma hukum yang ada sekarang, dengan mendasarkan validasi tersebut pada nilai-nilai yang universal.

Universalisasi ini dinampakkan pada pemberlakuan nilai-nilai moral, yakni dengan nilai-nilai yang diturunkan dari Tuhan, yang secara filosofis dapat dikenakan kepada manusia. dengan kekuatan tersebut, hukum alam dapat memberikan jawaban atas persoalan-persoalan moral yang tidak dapat diselesaikan oleh hukum masa kini. Selain itu, prinsip-prinsip universal yang dikenalkan oleh hukum alam ini juga menjadi acuan bagi pembentukan hukum pada masa kini. Dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip universal hukum alam dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan hukum. Hukum alam dipengaruhi oleh pandangan atau keyakinan bahwa seluruh alam semesta yang ada dimana diciptakan dan diatur oleh Tuhan, yang juga meletakkan prinsip-prinsip abadi untuk mengatur berjalannya alam semesta. Ini yang disebut dengan pandangan teologis, sementara pandangan sekuler dalam hukum alam dilakukan dengan landasan bahwa manusia dengan kemampuan akal budinya dab dunianya menjadi sumber tatanan masyarakat yang ada. Dengan demikian tidak ada batasan yang konkrit mengenai sifat/pandangan universal, karena nilai-nilai moral dipandang dapat dikenakan secara universal.
Sifat universal ini kemudian juga sekaligus menjadi kelemahan mendasar dari perkembangan hukum. Sebab, universalisasi hukum alam berada di tataran yang sangat metafisis, sehingga kurang menyentuh kehidupan konkrit masyarakat. Prinsip hukum alam yang berada pada tataran abstrak, harus dipositivisasikan ke dalam norma yang lebih baku dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan yang konkrit. Selain itu, hukum alam menekankan keberadaan pendekatan yang berada pada tataran yang filsafatis, sehingga validasi yang digunakan untuk mengukur tingkat keadilan hukum, harus berdasarkan nilai-nilai hukum alam yang berasal dari Tuhan, dimana pemaknaannya sangat sulit dilakukan dan kompleks.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: