Setyo Pamungkas' Weblog

Menyempurnakan Kesejahteraan Pekerja, Tugas Siapa?

Posted in Hukum (Law), Ketenagakerjaan by Setyo on November 19, 2012

Perubahan Pengaturan Komponen Kebutuhan Hidup Layak melalui Permenakertrans Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Komponen Dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak, memberikan wawasan baru tentang bagaimana pekerja (sebagai subyek) dalam proses produksi, merupakan elemen penting yang harus diperhatikan kebutuhannya. Sebagai mahkluk sosial, pekerja bertransformasi menjadi tidak sekedar status, namun sebagai pelaku utama proses produksi yang pantas dan penting diperhatikan.

Menarik untuk dilihat, bagaimana Pemerintah sebagai regulator di bidang ketenagakerjaan, memberikan panduan tentang apa yang harus diberikan secara layak kepada pekerja. Upah minimum menjadi tolok ukur utama bagaimana pekerja dapat mencapai kesejahteraannya. Kelayakan hidup, peningkatan kualitas dan kuantitas hidup adalah kuncinya.

Perbedaan pengaturan KHL melalui Permen 13/2012 memberikan dampak yang cukup signifikan, baik secara substansial dan secara sosiologis (akibatnya di lingkungan ketenagakerjaan). Dari hanya 46 komponen (Permenakertrans 17/2005) menjadi 60 komponen (Permenakertrans 13/2012), lingkungan ketenagakerjaan di Indonesia kemudian menjadi beraneka kondisi. Yakni: resah, atau dalam bahasa anak muda jaman sekarang, galau.

Pertanyaannya, apa yang menjadi berbeda? sebatas jumlah komponen saja? Tentu tidak.

Perubahan, Penyesuaian, dan Penambahan Komponen

Dalam perkembangannya selama beberapa tahun belakangan, ternyata jenis KHL yang diatur dalam Permenakertrans No.17 tahun 2005 tersebut memerlukan perubahan, penyesuaian dan peningkatan jenis kualitas dan kuantitas KHL sesuai dengan perkembangan kebutuhan hidup. Setidak-tidaknya, ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam content Permen 13/2012 ini, yakni tentang penambahan 14 Jenis Komponen Baru, penyesuaian/Penambahan Jenis Kualitas & Kuantitas KHL dan perubahan Jenis Kebutuhan.

Penambahan 14 Jenis Komponen Baru :

  1. Ikat Pinggang, volume 1/12
  2. Kaos Kaki, volume 4/12
  3. Deodorant 100ml, volume 6/12
  4. Setrika 250 watt, volume 1/48
  5. Rice Cooker ukuran ½ liter, volume 1/48
  6. Celana Pendek, volume 2/12
  7. Pisau Dapur, volume 1/36
  8. Semir dan Sikat Sepatu, volume 6/12 dan 1/12
  9. Rak piring portable plastik, volume 1/24
  10. Sabun Cuci Piring (colek) 500 gr per bulan, 1,50 kg
  11. Gayung plastik ukuran sedang, volume 1/12
  12. Sisir, volume 2/12
  13. Ballpoint/pensil, volume 6/12
  14. Cermin 30 x 50 cm, volume 1/36

Penyesuaian/Penambahan Jenis Kualitas & Kuantitas KHL :

  1. Sajadah/Mukena/Peci
  2. Celana panjang/rok/pakaian muslim
  3. Sarung/Kain panjang, volume 3/24
  4. Sewa kamar sederhana (kapasitas ruangan yang dapat menampung jenis kebutuhan KHL lainnya sesuai dengan kesepakatan yang mempertimbangkan kondisi daerah)
  5. Kasur Busa, volume 1/48
  6. Bantal busa, volume 2/36
  7. Bola lampu hemat energi (LHE) 14 watt, volume 3/12
  8. Listrik dari 450 watt menjadi 900 watt

Perubahan Jenis Kebutuhan :

Kompor Minyak Tanah 16 sumbu dan minyak tanah 10 liter, diubah menjadi kompor gas dan perlengkapannya: kompor gas 1 tungku, (volume 1/24, Selang dan regulator, volume 1/24, tabung gas 3 kg, volume 1/60) dan Gas elpiji 2 tabung @ 3 kg.

Adanya pengaturan yang baru sebagaimana di atas, memberikan efek secara nominal terhadap pertambahan nilai KHL di tahun 2012 ini. Peningkatan nominal KHL ini, dalam perhitungan matematisnya, memiliki selisih antara 3%-6% dibanding KHL dengan Permenakertrans 17/2005. Namun perhitungan ini juga tergantung pada situasi dan kondisi daerah yang bersangkutan. Semenjak disahkannya Permenakertran 13/2012, dampaknya meluas. Baik pekerja maupun pengusaha saling memberikan komentar. Banyak yang tidak setuju, maupun ada juga yang setuju. Kontribusi adanya pengaturan ini adalah munculnya gejolak ketenagakerjaan yang luas. Hal ini, dalam hemat saya adalah wajar adanya. Masyarakat memiliki hak untuk memberikan koreksi atas kebijakan pemerintah.

Di sisi lain, pelibatan 3 elemen subyek dalam kerangka ketenagakerjaan, menimbulkan adanya respon yang berbeda-beda terhadap Permenakertrans 13/2012. Beberapa masalah yang umum, yang menjadi perdebatan mencakup 3 hal:

  • bahwa pengesahan dan pemberlakuan Permenakertrans 13/2012 dipandang tidak tepat timingnya;
  • bahwa oleh pengusaha, 60 komponen KHL yang baru perlu dikaji ulang, dipertimbangkan kembali;
  • bahwa dengan pemberlakuan Permenakertrans ini, masing-masing daerah (penentu Upah Minimum), langsung atau tidak langsung, diberikan tanggung jawab untuk mendorong adanya kesepakatan untuk mereka-reka bagaimana KHL disusun dan ditentukan demi perumusan KHL dan pengusulan UMK

Pemberlakuan yang tidak tepat, salah satunya karena pengesahan Permenakertrans 13/2012 pada tanggal 12 Juli 2012, dan berlaku sejak tanggal itu pula, menempatkan proses transisi dari peraturan lama ke peraturan baru, di dalam penyususan KHL di tingkat kota/kabupaten menjadi bermasalah. Pemberlakuan ini menjadi mengganggu proses berjalan, seperti survey KHL, metode pengumpulan data, cara perumusan KHL, serta aplikasinya di dalam penyusunan usulan upah minimum.

Komponen KHL yang berjumlah 60, juga menciptakan masalah. Bahwa beberapa komponen menyebabkan adanya perdebatan tersendiri. Pemerintah bisa mengatur, tapi pekerja dan pengusaha dapat pula bertanya rasionalisasi dari pengaturan jenis komponen. Misalnya tentang tabung gas: volumenya pantas diperdebatkan. Bolpoin dan pensil, tanpa adanya kertas/buku/media tulis lainnya tidak ada. Bahkan yang sering menjadi masalah adalah komponen kamar, yang harus mampu menampung semua jenis KHL. Inilah beberapa masalah yang muncul.

Kabupaten/Kota di Indonesia dengan tiga pilar ketenagakerjaannya, adalah garda terdepan dan paling bersentuhan dengan lingkungan ketenagakerjaan. Persoalannya adalah seringkali aturan yang muncul dan dikenakan kepada mereka, tidak disertai daya pendukung yang memadai. Pemerintah di tingkat daerah, tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup. Sosialisasi aturan baru, minim kualitas, sehingga pemerintah (instansi ketenagakerjaan) di tingkat lokal, kelimpungan menghadapi perubahan pemikiran. Pengusaha dan pekerja di tingkat lokal, tidak kalah strategi dengan terus menekan pemerintah untuk menjadi gantungan nasib. Akhirnya, pemerintah, pekerja dan pengusaha harus berbesar hati, melebarkan pemikiran dan bersedia menerima konsekuensi. Pemerintah pusat?

Solusi: Kesepakatan

Permenakertrans 13/2012 memang menjadi momok tersendiri, terutama pada masa transisi pemberlakuannya. Pekerja, Pengusaha dan Pemerintah (sebagai regulator) menjadi pionir, menancapkan peran dengan menciptakan strategi yang mutakhir pula. Masing-masing harus mampu menerjemahkan aturan  sesuai dengan potensi yang tersedia. Sumber daya tersedia, hanya persepsi yang kemudian harus dipersamakan.

Perbedaan pendapat adalah penting. 60 komponen KHL tidak semata-mata menjadi sesuatu yang menakutkan sekaligus menggembirakan. Pemerintah mengamankan dan memfasilitasi keberlakuan dan penerapannya. Pengusaha dan pekerja harus mampu melihat secara rendah hati, apa yang kemudian menjadi efek penerapan aturan tersebut. Kesepakatan menjadi satu-satunya janji yang menjanjikan sekaligus juga dilema tersendiri. Kemampuan persuasif  modal berharga bagi penyelenggaraan lingkungan ketenagakerjaan yang penuh polemik. Tidak mudah tapi sangat strategis. Di masa transisi, menjadi tugas bersama seluruh pilar ketenagakerjaan untuk mendorong penyempurnaan kesejahteraan.

Kesejahteraan kemudian tidak menjadi milik pekerja saja, tapi juga pengusaha dan elemen masyarakat yang lain. Jadi, masing-masing harus memberikan perhatian. Kesejahteraan adalah tugas bersama, itulah landasan dari solusi bersama: kesepakatan.

———————–

Download Permenakertrans_No_13_2012_KHL, klik  Permenakertrans_No_13_2012_KHL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: