Setyo Pamungkas

Oposisi LK-FH

Posted in Mahasiswa by Setyo on August 23, 2008

Menyoal Alasan Kami Bersuara


I don’t think you have to bewearing stars on your shoulders or a title to be a leader. Anybody who wants to raise his hand can be a leader any time.”

General Ronal Fogleman, US Air Force—

Untuk pertama kali di lingkungan mahasiswa Fakultas Hukum UKSW dalam dekade terakhir, LK-FH diperhadapkan pada kenyataan bahwa ada sebagian mahasiswa FH yang secara ekstrim berbeda pendapat dan pandangan dengan LK. Bukan berbeda pendapat dan pandangan pada umumnya terjadi, akan tetapi perbedaan tersebut serasa mencolok dan menimbulkan kebimbangan, minimal bagi pihak-pihak yang secara langsung dan tidak langsung terlibat. Kali pertama juga muncul reaksi beberapa mahasiswa, yang menamakan dirinya Aliansi Mahasiswa Fakultas Hukum Peduli Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Hukum (AMPLKFH), yang ‘cadas’.

Tulisan ini bukan bermaksud membenarkan eksistensi AMPLKFH, namun lebih kepada pemaknaan demokrasi dalam konteks kehidupan bermahasiswa. Demokrasi yang dipahami dalam kerangka idealisme yang diusung mahasiswa fakultas hukum. Kebebasan berbicara dan berpendapat hadir sebagai isu utama mengapa LK-FH harus menghadapi kenyataan bahwa sebagian mahasiswa menentang kebijakan yang dibuatnya. Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk membenarkan, karena nilai dari sebuah kebebasan juga bersumber dari keterbukaan pemikiran dan keindahan tujuan demokrasi itu sendiri.

Terlepas dari masalah-masalah yang timbul berkenaan dengan kebijakan-kebijakan LK-FH, AMPLKFH ini merupakan wujud dari kehidupan demokrasi di lingkungan mahasiswa FH-UKSW. Melandaskan diri pada prinsip keadilan, AMPLKFH memberikan suasana baru bagi perkembangan kehidupan mahasiswa di kampus. Eksistensinya tidak terlalu nampak di luar, namun garang di dalam. Berbeda dengan LK-FH yang dipandang garang di luar, tapi (kenyataannya) rapuh di dalam. Inilah sebabnya mengapa beberapa rekan mahasiswa menanyakan di mana aksi AMPLKFH, yang kadang konsisten, juga kadang mati suri. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan fisik AMPLKFH, akan tetapi nilai yang dibangunnya berkembang, direspon positif maupun negatif. Wajar, karena secara umum, rata-rata mahasiswa menilai keberadaan sebuah organisasi atau suatu komunitas dari aspek legalitas dan jumlah massanya.

Latar belakang dibentuknya AMPLKFH bukan berasal dari kepentingan politis atau bermaksud untuk mempertahankan status quo, atau ingin menebas organisasi lain. Meskipun faktanya AMPLKFH ditelurkan dari pemikiran beberapa mahasiswa yang dulu pernah aktif di LK-FH, seperti eks Ketua Sema FH, eks Ketua BPMFH, atau mahasiswa lain yang dulu intens dengan LK FH. Alasan pedagogis patut dicari mengapa mereka yang dulu merupakan aktivis LK-FH mengkritik tajam perilaku organisasi LK FH Periode 2007-2008. Pahit memang menghadapi kritikan yang datang justru dari mereka yang sebelumnya aktif di LK, khususnya LK-FH. Inilah demokrasi, inilah kebebasan berpendapat, dan inilah mahasiswa fakultas hukum. Maka dengan eksistensi AMPLKFH di lingkungan mahasiswa, disadari atau tidak, membuka pandangan dan menimbulkan reaksi berbagai pihak. Dampaknya juga sangat dirasakan. Ada konflik antar-mahasiswa, atau mahasiswa-LK, yang kesemuanya berdasar pada perbedaan pendapat.

Demi memberikan gambaran mengapa AMPLKFH harus muncul, tulisan ini dibuat dan disampaikan kepada ______________ agar masing-masing pihak mendapatkan informasi yang jujur, bebas kepentingan, serta transparan. Diakui secara legalitas atau tidak, AMPLKFH dan LK-FH ditempatkan sebagai subyek yang sama. Harapannya adalah AMPLKFH tidak dipandang sebagai penentang/penantang/penjahat politis bagi LK-FH. Oleh karena itu, baik AMPLKFH dengan LK-FH sama-sama dilihat kelangsungannya secara menyeluruh tanpa dikotak-kotakkan dalam kasus-kasus tertentu saja.

Urgensitas Aliansi

Semenjak awal proses pembentukan LK-FH, baik BPMFH maupun SEMA FH Periode 2007-2008, teman-teman mahasiswa yang memiliki kepedulian mengenai LK-FH, mengajukan beberapa pandangan. Pandangan muncul terkait dengan kehidupan LK pada umumnya di UKSW mengenai apa dan bagaimana LK dengan pemimpin yang baru akan dibawa. Nada optimisme dan pesimisme mahasiswa sebaiknya diartikan sebagai suatu masukan bagi pengembangan kehidupan LK. Tidak terbatas pada FH-UKSW saja, namun mahasiswa UKSW pada umumnya. Baik mahasiswa yang kritis pada LK di fakultasnya, maupun mahasiswa yang kritis pada LK aras universitas.

Terkhusus bagi FH-UKSW, banyak cerita yang pantaslah disebarkan kepada rekan-rekan mahasiswa di UKSW sebagai bagian dari pembelajaran demokrasi mahasiswa. Misalnya saja pada proses pemilihan Ketum Sema FH Periode 2007-2008 yang –hanya– memunculkan satu calon kuat untuk menduduki jabatan itu. Masa yang aneh memang, karena mahasiswa fakultas hukum seharusnya lebih demokratis, karena secara akademis, mahasiswa fakultas hukum lebih nyata berkemampuan politis, tidak kalah dengan mahasiswa fakultas ilmu sosial politik. Akan tetapi pada kenyataannya memang demikian terjadi. Bagaimana mekanisme politis dijalankan sehingga muncul figur kepemimpinan yang baru di LK-FH Periode 2007-2008, bukanlah sesuatu yang spesial karena situasi tersebut tidak hanya terjadi di fakultas hukum UKSW saja, dan tidak menutup kemungkinan pada masa yang lalu ada kejadian yang serupa.

Kepemimpinan yang baru ini ternyata menimbulkan kontroversi. Selain memutus komunikasi, kepemimpinan periode tersebut mengabaikan rantai diskusi yang selama ini terus dikelola dengan baik antara mahasiswa senior (baik yang pernah aktif di LK atau tidak), dengan mahasiswa yang mengambil alih kepemimpinan LK-FH berikutnya. Estafet kepemimpinan memang berjalan lurus, tapi sejarah membuktikan bahwa hubungan baik antara mahasiswa eks pejabat dengan mahasiswa pejabat yang baru terputus. Terputus dalam hal ini jangan diartikan negatif, akan tetapi terputus dalam yang dikaji dalam ‘kecilnya peluang bagi mahasiswa eks pejabat LK untuk memberikan pandangan atau pertimbangan bagi LK-FH periode 2007-2008’. Sulitnya akses bagi mahasiswa senior untuk mengakses informasi perkembangan LK-FH dari dalam, adalah salah satu alasan mengapa LK-FH Periode 2007-2008 dianggap elit-eksklusif oleh sebagian mahasiswa. Memang setiap periode LK-FH menyelenggarakan aktivitas dengan ciri khasnya masing-masing. Bung Benhur, Kak Yesaya, Kak Indirani Wauran, Eirene Erick Sabuna dan Indra, adalah beberapa senior LK-FH yang menyelenggarakan LK-FH dengan paradigma kepemimpinannya masing-masing. Layaknya mereka dijadikan contoh karena visi-misi yang merupakan kontinuitas pemikiran dari satu periode ke periode selanjutnya.

Oleh karena terbatasnya akses, maka rekan-rekan mahasiswa berkumpul, serta menuangkan pendapat secara bebas namun terarah, demi kepeduliannya terhadap LK-FH melalui kelompok. Maka disinilah muncul komunitas yang menyatakan dirinya Aliansi Mahasiswa Fakultas Hukum Peduli Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Hukum atau disingkat dengan AMPLKFH. Alasan utama yang mendesak AMPLKFH hadir adalah sebagai sarana berpendapat yang bebas, terbuka, tidak ekslusif, serta jujur mengenai kinerja LK-FH. Selain itu, komunitas ini tidak bermaksud untuk menandingi keberadaan LK-FH yang nyata-nyata memiliki kekuasaan dan kewenangan yang ditentukan dalam Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa UKSW. Komunitas ini pula menjadi sarana bagi mahasiswa berbagai angkatan di FH untuk menyatukan pendapat, untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan LK-FH. Sikap yang diambil demi memberikan pertimbangan bagi keputusan yang akan diambil oleh LK. Meskipun terkesan terlambat, namun respon mahasiswa melalui aliansi ini perlu dipahami sebagai bentuk penyampaian pendapat dengan metode yang berbeda dengan yang umum terjadi.

Fenomena Ajaib

Perkembangan LK-FH, tanpa menyebut pada periode tertentu, secara umum menciptakan regenerasi yang baik. Potensi mahasiswa diakomodir dalam kerangka LK demi memenuhi kebutuhan mahasiswa akan organisasi kemahasiswaan yang aspiratif. LK juga menciptakan ruang gerak yang positif demi membangun citra yang baik bagi mahasiswa. Setiap usaha yang dijalankannya adalah demi meningkatkan input yang baik bagi perkembangan LK-FH di masa-masa yang akan datang.

Sebagai bahan pertimbangan bagi adanya LK-FH yang selanjutnya, maka beberapa fenomena yang ‘ajaib’, yang jarang terjadi (atau bahkan tidak sama sekali) mengiringi penyelenggaraan LK-FH Periode 2007-2008. Beberapa peristiwa yang terjadi pada masa periode tersebut memunculkan reaksi beragam dan menimbulkan konflik. Dalam persepsi positif, mahasiswa menjadi peduli dengan LK-FH. Bahkan yang tadinya tidak memperhatikan sama sekali, menjadi ikut berinisiatif menyampaikan pendapat. Baik hanya sekedar obrolan biasa, tapi juga diskusi yang intensif. Beberapa peristiwa yang menyentuh, memberikan pelajaran bersikap dalam organisasi di LK-FH adalah sebagai berikut.

Pertama, pada masa awal terbentuknya LK-FH secara lengkap (BPMFH-Sema FH 2007-2008), organisasi kemahasiswaan ini merespon perubahan sistem perkuliahan dengan menyusun Pernyataan Sikap Mahasiswa mengenai Sistem Perkuliahan. Adalah perkembangan yang baik dalam merespon perubahan kebijakan kampus, terutama demi kepentingan mahasiswa fakultas hukum. Namun, pernyataan oleh LK tersebut disusun dan disampaikan tidak dengan cara yang bijaksana. Sebagai contoh, pada masa periode 2005-2006 yang lalu, BPMFH yang dipimpin oleh Sdr. Yudo Widiyanto menyusun persepsi mahasiswa mengenai kinerja dosen/staf pengajar di FH UKSW. Persepsi itu disampaikan secara terbuka kepada seluruh staf akademika FH UKSW, dengan berlandaskan pada metode survey terbuka, representatif, murni ide mahasiswa, serta dikompilasikan menjadi pernyataan hitam putih yang tidak memihak. Bahkan untuk BPMFH periode itu sendiri. Dampak yang ditimbulkan hanya sampai kepada perubahan bersikap civitas, terutama dengan tujuan memperbaiki diri sendiri, karena mekanisme kontrol yang aspiratif ditunjukkan dengan cara yang bijaksana. Berbeda dengan Pernyataan Sikap Mahasiswa LK-FH yang disampaikan secara luas, pada beberapa waktu yang lalu. Munculnya pernyataan ini menimbulkan analisa beragam. Sebagian mendukung dan sebagian lagi justru menolak dengan tegas. Alasan penolakan didasari pada relevansi penyusunan pernyataan pendapat yang belum cukup dijadikan acuan. Misalnya, pernyataan itu mewakili mahasiswa FH secara keseluruhan, padahal yang dimintai pendapat dalam open forum atau sosialisasi, hanya disepakati tiga angkatan, 2005, 2006, dan 2007. Ketika ditanyakan mengapa demikian, ternyata ada pandangan LK-FH yang menganggap angkatan mahasiswa tersebutlah yang paling tersentuh dengan masalah yang diangkat. Lebih ironis lagi, dari proses perumusan pernyataan tersebut, hanya beberapa orang di dalam LK saja yang aktif. Aneh.

Kedua, baru pada periode inilah yang nyata-nyata berbeda mengenai keberlangsungan organisasi mahasiswa di FH-UKSW dengan adanya pemberhentian anggota Sema FH oleh Ketua Sema FH. Alasan pemberhentian terkesan dibuat-buat dan didasari kekuatan yuridis yang tidak tepat. Serba luar biasa karena dominasi pimpinan LK-FH ternyata memberikan pengaruh negatif bagi mereka yang secara langsung bersinggungan dan berbeda pendapat dengannya. Ternyata KUKM yang menjadi landasan organisasi LK, dijadikan aspek legalisasi untuk (maaf) memecat anggota LK. Padahal, tidak ada ketentuan di dalam KUKM dimana anggota LK diberhentikan dengan cara dan alasan demikian. Tentu saja ini menimbulkan reaksi mahasiswa karena LK-FH seakan-akan menjadi superior sehingga dapat mematikan karir seseorang mahasiswa untuk berorganisasi di LK. Ini bahkan lebih aneh.

Tiada maksud untuk mendiskreditkan LK-FH dalam menyelenggaraan aktivitasnya. Akan tetapi, pandangan yang muncul dalam tulisan ini memiliki tujuan bahwa sebaik apapun organisasi yang dibangun, tetap memiliki kelemahan. Fenomena di atas sungguh ajaib, karena ada perubahan paradigma kekuasaan yang diakomodir oleh LK-FH.

Kinerja LK-FH dan Sikap Oposisi

Sorotan utama AMPLKFH adalah LK-FH. LK-FH menjadi objek yang dibahas habis-habisan oleh rekan-rekan mahasiswa fakultas hukum yang menjadi simpatisan AMPLKFH. Terlebih menyoroti kepemimpinan baru dan kinerja organisasi yang diampunya. Kepemimpinan LK-FH lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri organisasi itu. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses berliku, yakni perubahan dalam diri LK. Ketika LK-FH menemukan visi dan misi hidupnya, ketika itu pula terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh. Bahkan ketika setiap kebijakan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah LK lahir sebagai organisasi yang memimpin dan memenuhi kebutuhan mahasiswanya. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).

AMPLKFH bukanlah lembaga resmi, bukan komunitas yang diakomodir oleh lembaga tertentu, namun keberadaannya ditempatkan sebagai oposisi, yang diakui atau tidak bersikap lain dengan kebijakan LK-FH. Aliansi kritis terhadap kinerja LK FH secara keseluruhan, bukan pada momen-momen tertentu saja. Kepemimpinan yang dipraktekkan LK-FH serta pengaruhnya pada kehidupan bermahasiswa di kampus yang dibahas. Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. elontah said, on August 30, 2008 at 12:45 pm

    LK itu media belajar. Keberadaan AMPLKFH bisa dimaknai sebagai bahan belajar mereka berorganisasi. Semoga bisa digiring ke arah itu. Politis, bukan?😉

  2. Satrio (Sekum SMFH 99/00) said, on December 22, 2008 at 11:44 am

    Masalah ini sebenarnya klasik, warisan yang tidak terselesaikan. Bagaimanapun perlu dipahami tiga hal:
    Pertama: bahwa akar permasalahan harus dilihat dari forum pengurus angkatan yang sering kali tidak berfungsi maksimal. Termasuk mahasiswa sendiri yang tidak mau menggunakan wadah ini secara optimal. Akibatnya keterwakilan mahasiwa di BPMFH pun menjadi kurang representatif padahal BPMHF inilah yang menentukan pimpinan di SMFH.

    Kedua: regenerasi dan kaderisasi di BPMFH tidak berjalan sebaik di lembaga eksekutif. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan antara badan eksekutif dan legislatif (entah bagaimana saat ini).

    Ketiga: harus jujur diakui bahwa tidak semua mahasiswa peduli akan LK, kecuali tentunya saat yg bersangkutan memiliki kepentingan.

    So politis atau tidakkah AMPLKFH? Efektif atau tidakkah langkah ini? Yang pasti sejak awal ada atau tidak adanya AMPLKFH semua mekanisme dan wadahnya sudah ada hanya saja fungsinya tidak optimal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: