Setyo Pamungkas

Inspirasi Dari Obama

Posted in Uncategorized by Setyo on June 17, 2009

Usai sudah perhelatan akbar rakyat Amerika Serikat (AS) untuk memilih pemimpinnya. Negara adidaya itu dihentakkan dari seorang muda, berbakat, intelek, dan punya karisma yang tidak kalah dengan pemimpin AS dahulu, Abraham Lincoln. Barrack Hussein Obama, namanya yang menggetarkan tidak hanya rakyat AS saja, namun juga masyarakat di berbagai belahan bumi ini. Saya bahkan terkesima. Tidak dapat tidur pula karenanya.

Apa yang istimewa dari seorang kulit hitam, keturunan Afrika-Amerika, yang sangat mempesona itu? Banyak informasi yang ada dalam berbagai media, terutama dalam isi situs-situs di internet dapat ditemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan di atas tadi. Dari segi moralitas seorang Obama, sampai dengan hal-hal yang pribadi tentang Obama banyak dimuat, dicari tahu, dan diinformasikan kepada khalayak. Bahkan situs http://www.barackobama.com/ yang digunakan untuk kampanye, pengunjungnya jutaan orang setiap hari.

Banyak orang ingin tahu apa yang dimiliki Obama sehingga ia begitu menggariskan sejarah dalam pemilihan Presiden AS periode berikutnya. Obama adalah fenomena, demikian berbagai media menyebutnya. Fenomena itu bukan hanya saja karena karakteristik Obama, namun juga dikarenakan darah yang mengalir di tubuhnya. Mengapa? Obama lahir dari keluarga yang sederhana, persilangan budaya (ayah dari Kenya, Ibu dari Kansas), dan berkulit hitam. Belum lagi beragamnya lingkungan tempat ia hidup. Saya tak perlu menjelaskan bagaimana sejarah seorang Obama, karena saya yakin informasi yang menyajikan Obama sebagai figure yang menjanjikan ada dalam berbagai sumber. Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah bagaimana Barack Hussein Obama menimbulkan inspirasi bagi saya, dan (mungkin) UKSW perlu melihat sesuatu yang menarik mengenai Obama demi kualitas visi dan misinya.

Pidato Inspiratif dari Obama

Sungguh menarik ketika saya membaca artikel mengenai fenomena politik AS yang ditulis oleh Simon Saragih (KOMPAS, 8/11/2008), yang mengungkapkan secara sederhana mengenai kemunculan Obama sebelum maju menjadi calon Presiden AS. Simon melukiskan bahwa pada tahun 2004, ketika John F Kerry menjadi capres dari Partai Demokrat AS, Obama memberikan pidato penghantar. Pidato itu sungguh terkenal dan memunculkan apresiasi dari berbagai kalangan, sehingga Obama kemudian menjelma menjadi figure yang membawa idealisme baru, minimal untuk masyarakat AS.

Dalam petikan pidato yang ditulis oleh Simon, ada beberapa hal yang sangat mendasar yang disampaikan Obama kepada audience. Hal-hal yang mendasar tersebut terpola dengan baik, disampaikan dengan cara yang bersahabat, tidak membosankan, dan memberikan pengaruh bagi orang yang mendengarnya. Saya sempat browsing di Youtube dan menemukan video tentang pidato Obama (pada Konvensi Nasional Partai Demokrat di Boston, Juli 2004) untuk John F Kerry tersebut.

Hal pertama yang mendasar adalah kejujuran dari seorang Obama. Dimana Obama secara terbuka menyampaikan pemikirannya tanpa melupakan bahwa keinginan masyarakat adalah dorongan yang terkuat baginya untuk tampil sebagai senator dari negara bagian Ilionis, yang juga merupakan tempat kelahiran Abraham Lincoln. Dia juga tidak malu dengan warna kulitnya, sejarah hidupnya, dan sisi negatif hidupnya, yang mungkin dapat berdampak pada persepsi publik terhadapnya. Kejujuran ini penting baginya karena yang ia hadapi adalah masyarakat Amerika, yang perlu mendengar dan melihat bahwa kaum marjinal (kulit hitam) juga memiliki pesona dan dapat memimpin.

Kedua, kebanggaannya terhadap tanah airnya. AS dengan segala sendi kehidupannya adalah inspirasi Obama. Dalam pidatonya Obama melihat bahwa AS berkembang tidak hanya sebagai negara maju dalam artian positif, tapi juga dalam sisi negatifnya. Obama tidak menghujat, tidak jijik dengan perilaku negaranya, namun Obama menyadari bahwa negara sebesar AS pun rentan terhadap pengaruh negatif kemajuan bangsanya. Kebanggaan Obama terhadap tanah airnya dikemas dalam suatu bentuk pidato yang nyaman. Obama tidak memvonis. Inilah hebatnya. Obama bahkan tidak memperkeruh suasana dengan mengevaluasi metode kepemimpinan yang sedang dijalankan.

Ketiga, memberikan ide yang kreatif yang dikemas secara bermartabat. Dalam pidatonya yang disebut-sebut sebagai embrio kemunculan Obama di AS, Obama memberikan garansi kepada publik bahwa AS adalah negara yang besar dan harus dikelola dengan baik. Pengelolaan itu dilandaskan pada pengumpulan ide demi kesegaran kehidupan bermasyarakat, penghargaan terhadap ide, sekalipun kadangkala terbentur pada kepentingan politik pihak tertentu. Obama memberikan contoh bahwa idenya dapat dikonstruksikan dalam kalimat yang membangun kreativitas berpikir pendengarnya, sehingga secara tidak sengaja doktrin ‘perubahan’ dari Obama tidak terasa berat dicerna.

Inilah pidato yang inspiratif bagi pendengarnya. Juga bagi saya khususnya. Membaca petikannya saja, sudah ada pesona. Apalagi bilamana melihat peforma Obama dalam menyampaikan pidato. Ketenangan dan kharisma yang begitu kuat, nampak dalam gaya berbicaranya di depan publik. Mungkinkan dia memiliki pesona yang sama dengan Bung Karno?

UKSW dan Obama

Agak sulit menghubungkan antara Barack Hussein Obama dengan UKSW. Sulit bagi saya untuk melukiskan garis penghubung antara nilai yang dibangun Obama dengan apa yang dimiliki oleh UKSW. Oleh karena itu, saya akan menggunakan kacamata ‘paksaan’ untuk belajar nilai dari Obama. Passwordnya adalah NILAI.

Pada awal kemunculannya, Obama bekerja dengan konsekuensi logis bahwa ia adalah orang yang berbeda dari pada tokoh-tokoh yang pernah muncul di AS. Keanekaragaman yang melekat pada pribadinya, tidak membuat ia tinggi hati, tidak mendominasi, dan bahkan tidak memarjinalisasi dirinya sendiri. Ia sangat rendah hati dan sadar bahwa ia dibentuk juga karena keanekaragaman itu.
UKSW juga muncul karena perbedaan ideologi, keanekaragaman budaya, serta motivasi yang tidak kalah dengan Obama, yakni ambisi humanisme yang demokratis. Hanya saja kemasannya sangat berbeda. Kerendahan hati Obama tidak dapat disamakan dengan “kerendahan hati” UKSW, yang masih percaya bahwa UKSW adalah BESAR. Bagi saya, UKSW masih terjebak pada paradigma kebesaran masa lalu. Masa lalu menjadi senjata utama untuk menganalisis persoalan. Yang muncul kemudian adalah ‘kekunoan’ bukan ‘kekinian’ yang menjadi inti dari pemikiran Obama.

Ideologi yang dibangun Obama dengan ideologi yang dibangun pendiri UKSW, Bapak O. Notohamidjojo, memiliki kesamaan prinsip. Obama dan Notohamidjojo sama-sama menekankan pada penguatan sentiment positif dari keberagaman. Sampai dengan hari ini, Notohamidjojo masih dapat berbangga bahwa visi misi UKSW belum berubah, nilai-nilai luhurnya juga masih kental dengan kehidupan civitas akademika UKSW. Untuk Obama, universalitas yang dia unggulkan masih harus berhadapan dengan realitas dunia dan dalam lingkup yang kecil, realitas kehidupan sosial-politik AS. Unversalitas yang dibangun Obama memiliki korelasi dengan sejarah hidupnya yang dibentuk dengan nilai budaya yang beragam pula.

UKSW memang harus banyak belajar. Pemaknaan nilai, yang sekarang ini hanya kental pada mahasiswa baru setelah PPMB, seharusnya dapat ditanamkan secara terus menerus, seimbang, terarah. Saya belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri seorang pemimpin UKSW, memberikan pidato di hadapan civitas akademika secara umum, kemudian mendapatkan applaus yang luar biasa. Saya juga belum pernah mengalami gegap gempita pemilihan Rektor UKSW, yang dibarengi dengan semangat perubahan. Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik.

Faktanya, saya adalah hanyalah salah satu bagian dari UKSW yang belum memiliki loyalitas terhadap visi-misi UKSW, karena bingung mencari jawaban dari pertanyaan: apa yang bisa saya berikan untuk UKSW? Sementara peluang ke sana belum mampu saya capai. Yang muda berkarya, yang tua bergembira.

Sungguh berbeda dengan Obama. Bahwa pelayanan menjadi media ampuh menyatukan perbedaan antar generasi. Yes we can!
Change we believe in !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: