Setyo Pamungkas

Netralitas Media, Pentingkah?

Posted in Mahasiswa, Penyiaran (Broadcasting) by Setyo on June 17, 2009

*Sebagai Usulan Pembentukan Ombudsman di Scientiarum

Sebagai bagian dari anggota masyarakat yang mendapatkan manfaat dari penyebaran informasi melalui berbagai saluran media, saya memandang bahwa media ternyata ada dalam suatu posisi yang strategis. Artinya bahwa; secara sengaja maupun tidak sengaja, media menjadi bagian dalam perkembangan kehidupan dalam masyarakat.

Perkembangan media di Indonesia, sangat pesat, maju, dan menyentuh segala aspek kehidupan dalam masyarakat. Perkembangan ini dirasakan dengan adanya kemajuan teknologi dan informasi pada decade terakhir. Sarana media juga semakin beragam. Dulu kita hanya mengenal radio dan televisi, sekarang sudah ada internet dan saluran lain yang semakin mudah bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi. Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya ingin menyatakan bahwa perkembangan media perlu memperhatikan ‘perilaku dewasa’-nya, terutama dalam hal netralitas sebagai bentuk tanggung jawab pengelola media terhadap publik. Tulisan ini juga tidak bertujuan untuk memarjinalisasikan pihak-pihak tertentu, tapi lebih kepada saran dan kritik untuk membangun media massa yang dewasa dan bertanggung jawab.

Media Massa
Media massa (mass media) oleh Dennis McQuail terdiri dari dua kata, yakni “media” dan “massa” yang mana pengertiannya lebih kepada pemahaman arti kata dalam masyarakat, bukan dari sisi etimologis, karena pengertian media dari waktu ke waktu terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi, sosial politik, dan persepsi masyarakat terhadap media (Dennis McQuail, 2000; 10).
Kata media juga lebih dekat dengan ‘medium’ yang mengindikasikan bahwa media bergerak pada tataran menengah, sehingga menjadi penengah dari dua sisi yang berbeda. Sementara itu massa (dalam kerangka media massa) terkait erat dengan keberadaan publik. Hal ini berarti massa tidak dapat diartikan secara negatif atau positif. Massa dalam pengertian ini adalah sesuatu yang tidak menunjuk pada personal, namun selalu berhubungan dengan orang banyak.
Sehingga dengan demikian, kata ‘media massa’ dalam pemikiran saya bermaksud untuk menunjuk pada keberadaan saluran yang independen (netral) yang memiliki hubungan dengan publik, serta tidak memiliki kecenderungan tertentu, kecuali pada kepentingan penyampaian informasi yang bebas dan bertanggung jawab.

Netralitas bagi Media Massa
Kedewasaan pers, dapat dilihat juga dalam perilaku media massa yang memberikan informasi tanpa memihak atau dengan kata lain sikapnya yang netral sebagai penengah. Media massa adalah pemberi pesan bagi masyarakat yang berujung pada pembentukan opini di lingkungan masyarakat. Pesan-pesan itu disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai saluran.
Netralitas ini urgent, mengingat bahwa masyarakat penerima informasi memiliki persepsi sendiri dalam menerjemahkan pesan yang disampaikan oleh media massa. Penyampaian informasi yang tidak condong pada kepentingan tertentu, intervensi pihak-pihak, maupun konsekuensi logis dari stakeholder. Jadi pengelola media massa harus menahan diri untuk tidak memberikan pendapatnya pada berita atau informasi tertentu, kecuali dikonstruksikan dalam bagian yang diperuntukkan khusus bagi pengelola media. Inilah yang dalam surat kabar sering kita kenal dengan istilah Tajuk Rencana.
Namun dalam perkembangannya dewasa ini, yakni dengan adanya internet, makin banyaknya situs portal berita, membuka ruang bagi pengelola media untuk tidak membatasi diri memberikan komentar, pendapat dan pandangannya dalam pemberitaan tertentu. Bahkan terkesan pengelola media memprovokasi masyarakat melalui komentar-komentarnya, demi tujuan agar banyak pengguna internet yang berkunjung ke situs yang bersangkutan. Terasa ironis, karena salah satu fungsi media adalah pendidikan sebagai wujud tanggung jawab pers.

Bagi saya, media massa selalu ideal. Hanya saja, yang mengelola seringkali menggunakan media semata-mata demi kepentingan profit (tidak terbatas pada modal, tapi juga popularitas). Di beberapa situs (blog, portal berita, dan lain sebagainya) yang memberikan ruang untuk publik berkomentar, kadangkala justru pengelola media yang memprovokasi, menyindir, atau memberikan pembelaan pada pihak-pihak tertentu dalam informasi berita yang dimuat. Akibatnya, aktualitas, akurasi, dan kredibilitas pantas dipertanyakan.

Di Kampus UKSW, Scientiarum memiliki peranan sebagai sarana media massa, yakni melalui web dan Koran kampus. Pertanyaan yang mendasar adalah apakah saluran ini (baca: Scientiarum) dikelola dengan baik?

Perlu Ombudsman Pers
Scientiarum sebagai sarana komunikasi massa, yang mana kalangan akademisi lebih banyak terlibat, seharusnya dapat mendidik sasarannya agar berkembang lebih baik. Pemberitaan yang diteruskan kepada penerima informasi (terutama kalangan mahasiswa) tidak dimuati dengan sisi negatif pengelola media. Meskipun beritanya baik dalam ukuran pemberitaan yang tidak berpihak, namun komentar (terutama dari redaksi) seharusnya bersifat memberikan klarifikasi atas pertanyaan-pertanyaan pembaca, bukan berinisiatif untuk menaikkan rekor pengunjung situs.

Hal ini berarti bahwa Scientirum bukanlah tujuan, tapi Scientiarum adalah alat untuk mendidik civitas akademika di UKSW khususnya, dan publik yang terkait maupun tidak terkait secara langsung dengan eksistensi Scientiarum, terutama dalam kebebasan dan kemerdekaan pers dengan penuh tanggung jawab. Oleh karena itu, saya menyarankan bahwa perlu dibentuk Lembaga Ombudsman di Scientiarum sebagai institusi yang mengawasi penyelenggaraan media yang taat pada etika jurnalistik, norma sosial, dan aturan hukum mengenai media.

Pengelola Scientiarum yang sebagian besar berasal dari kalangan mahasiswa perlu diberikan pengetahuan mengenai profesionalitas media dan etika jurnalistik. Saya menekankan hal ini karena secara intelektual mahasiswa belum mencapai pada tingkat intelektualitas tertentu yang dibutuhkan oleh media yang profesional. Belajar dan berlatih menjadi penting, terutama untuk mengontrol emosi, egoisitas pencari berita, dan kepentingan pribadi. Ombudsman perlu untuk menjaga profesionalitas Scientiarum di lingkungan akademisi UKSW. Ombudsman dapat meningkatkan kredibilitas Scientiarum dikarenakan dapat memberikan pengawasan terhadap produk pers yang dikeluarkan, mengakomodir reaksi publik atas produk tersebut, sekaligus juga sebagai sarana yang ampuh untuk menjaga kepercayaan masyarakat atas Scientiarum.

Kepercayaan publik salah satunya tergantung pada netralitas Scientiarum (redaksi) dalam memberikan informasi atau berita, terutama yang dikelola secara tepat. Untuk menjaga sifat netralitas itu, bagi saya diperlukan ombudsman pers.

Bukan cuma pengelola Scientiarum saja yang membentuknya, akan tetapi juga kita, kami para penikmat informasi dari Scientiarum yang ikut membentuknya.
Beranikah Anda?

Tagged with: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: