Setyo Pamungkas

Rivalitas dalam Debat Final Capres

Posted in Uncategorized by Setyo on July 4, 2009

Salut !!
Pendidikan politik bagi bangsa ini sekali lagi diupayakan dalam bentuk yang applicable bagi masyarakat kebanyakan. Debat Capres yang digelar oleh KPU dengan partnernya RCTI sebagai media publikasi, mampu memberikan suasana yang lain daripada debat-debat sebelumnya. KPU cukup menyediakan ruang yang pasti bagi kebutuhan informasi politik masyarakat Indonesia. Saya rasa cukup, bukan kurang atau lebih.

Menarik bagi saya ketika menonton debat final semalam. Bintang debat final tentu saja adalah para capresnya sendiri. Namun yang paling membuat saya kagum adalah Prof. Dr. Pratikno, M.Soc, Sc. Kemampuannya menjadi moderator mirip-mirip dengan pembawa acara Indonesian Idol. Apalagi dengan permulaan tanya : ‘Indonesia bertanya’-nya itu. Pratikno membuat acara debat menjadi segar dengan isu-isu yang diungkap dan dipertanyakannya kepada para capres. Eksistensi dan peran capres dipertaruhkan bilamana salah satu dari mereka terpilih sebagai pemimpin negeri ini lima tahun mendatang.

——————-

Topik final adalah NKRI, Demokrasi, dan Otonomi Daerah. Isu ini menjadi isu pamungkas menjelang Pilpres tanggal 8 Juli mendatang. Nasionalisme dan wawasan kebangsaan para capres diuji dalam menjawab sub-sub pertanyaan yang diajukan moderator. Tercatat ada lima hal penting yang diharapkan menjadi perhatian bagi bangsa ini sebagaimana dimuat dalam harian Kompas, 3 Juli 2009. Kelima hal itu adalah hak politik rakyat yang terkait dengan DPT, penyelenggaraan Pilkada dan pengaruh politisasi birokrasi, isu pemekaran dan otonomi daerah, ideologi bangsa (isu-isu rasialis dan sara), serta pertaruhan integrasi bangsa dalam kerangka NKRI.

Masing-masing capres menjawab isu tersebut dengan gaya khasnya. Megawati dengan keluguannya, SBY dengan keanggunan yang didukung dengan kemampuan intelektual di atas rata-rata, dan JK dengan kejujuran dan ketegasannya yang dilatarbelakangi dengan pengetahuannya karena berpengalaman sebagai saudagar. Cara mereka menjawab mengingatkan saya ketika ada di dalam kelas pada waktu masih kuliah dulu. Saya selalu menilai dosen ketika mereka menjelaskan materi. Semalam, dosen-dosen saya menjelma menjadi capres-capres. Kemudian, yang perlu dicermati adalah substansi yang dipaparkan Mega, SBY, dan JK mengenai isu-isu yang dipertanyakan.

Saya sendiri melihat ada plus minus atas jawaban-jawaban yang diberikan. Persepsi negatif dan nada pesimistis menjadi titik tolak pertama Mega dalam menjawab pertanyaan. Misalnya saja Mega pesimis penyelenggaraan pilpres akan lebih baik, terutama bila menyangkut soal perbaikan DPT yang dibebankan kepada Pemerintah sekarang (SBY-JK dalam posisi incumbent). Pendapat saya, Mega sepertinya selalu menyalahkan pengelolaan pemilu yang kurang baik kepada pemerintah. Mega selalu tidak puas bila kalah, atau partainya kalah dalam pemilu. Padahal, dalam etika berpolitik dan berdemokrasi, yang dewasa adalah mereka yang siap introspeksi diri terlebih dahulu bila rakyat tidak memilihnya.

Oleh karena jawaban yang bagi saya aneh tersebut, saya melihat bahwa rivalitas yang nampak hanya anatara SBY dan JK. Mereka berdua menunjukkan sesuatu yang sungguh berbeda dengan penampilan Mega. Mungkin, SBY dan JK telah menyepakati bilamana di panggung debat final merupakan wujud dari salah satu kedewasaan berdemokrasi sehingga konflik pertentangan pendapat nampak santun dan enak ditonton. Sisi entertainment mereka tampilkan secara baik dan memuaskan. Contohnya ketika SBY memulai menyampaikan visi-misinya dengan berkata: ‘Saya belum mulai, Pak JK sudah mengganggu’. JK kemudian merespon dengan senyuman yang tidak sinis. Ajaib memang.

Bukan saya tidak melihat Mega sebagai pesaing yang pantas, namun saya membayangkan bahwa bila Prabowo yang berdiri di sana menggantikan Mega, maka debat mungkin akan lebih seru dan menggigit. Mengapa? Menurut saya, diantara ketiga capres, hanya Mega yang secara substansi jawaban, berlandaskan pada nilai-nilai yang sangat konvensional atau bahkan terlalu biasa. Tidak nampak bahwa beliau memiliki pengalaman sebagai Presiden pertama perempuan, yang memiliki terobosan-terobosan bagus pada masanya. Hanya saja keteguhan hati dan kemandiriannya membuat saya cukup kagum. Perjuangannya yang khas dengan keluguannya mengisi debat menjadi penengah.

Kematangan akademis dan kemampuan seorang pengusaha diadu dari SBY dan JK. SBY dengan senjata utama, yaitu kepandaiannya berbicara berdasarkan fakta, pengetahuannya, dan wawasan sospolnya, berhadapan dengan JK yang secara terbuka memberikan kritikan dan ide-ide radikal yang berbeda dari dua capres lainnya. Keduanya ini sangat kreatif. Hal ini sangat nampak ketika isu pluralisme (Bhineka Tunggal Ika) dan SARA direspon, SBY memiliki pemikiran ke depan bahwa sejalan dengan penguatan kembali Bhineka Tunggal Ika, perda-perda yang terlalu jauh mengatur masalah itu perlu ditertibkan. Bukti yang ia sampaikan adalah adanya penertiban 3000an perda dari 15000an perda bermasalah. Sementara JK menganggap bahwa salah satu solusi untuk menyingkirkan SARA selain peneguhan prinsip Bhineka Tunggal Ika, yakni dengan kemungkinan memutasi seluruh pegawai negeri ke seluruh daerah. Maksud mutasi itu demi memperdalam makna keterbedaan yang justru landasan kuat bagi NKRI yang plural ini.

Perbedaan yang lain, tentang isu integrasi bangsa terkait dengan wilayah-wilayah RI di perbatasan, Mega nyatakan penjagaan dan pertahanan kedaulatan negara harus dijalankan sesuai UU. SBY merespon isu itu dengan berpendapat bahwa integrasi dalam kerangka konflik perbatasan, seharusnya tidak diserahkan kepada pihak lain. Konflik tersebut harus diselesaikan antar pihak (bilateral) sehingga mencegah munculnya kebijakan yang merugikan bangsa sendiri. Sedangkan JK secara positif melihat perlunya pengaktifan kegiatan-kegiatan di daerah perbatasan demi upaya menguatkan rasa nasionalisme masyarakat perbatasan sehingga kedaulan negara tetap terjaga. JK juga menyampaikan perlunya sertifikasi untuk semua wilayah NKRI sekaligus juga upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan.

————-

Sungguh debat final yang diharapkan oleh berbagai kalangan. Sangat cair dan mengalir apa adanya. Tidak dibuat-buat. Faktor-faktor kelemahan debat sebelumnya diperbaiki secara mendalam oleh KPU sehingga debat final berlangsung baik. Bintang sebenarnya adalah capres sendiri. Bagi saya, JK terlihat unggul memainkan perannya sebagai peserta debat. Tidak sungkan dan malu-malu. Mega terlihat datar, dan SBY tetap anggun meskipun seringkali menanggapi kritikan JK, tentu saja dibarengi senyuman.
Oleh karena itu, menurut hemat saya, rivalitas hanya ada pada SBY dan JK. Maaf, Mega belum mampu mengimbangi.

Kelemahan debat hanya pada pelanggaran estimasi waktu berbicara yang dilakukan Mega sebanyak delapan kali, JK tiga kali, dan hanya SBY yang terlihat memaksa pas dengan estimasi waktu.

Kelemahan penonton seperti saya:
Pilih atau golput lagi?

Tagged with: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: