Setyo Pamungkas

“The End” Note

Posted in Uncategorized by Setyo on May 2, 2011

Jika kita lihat film-film, pada bagian akhirnya jarang sekali nampak ada kata “the end”. Namun, coba lihat pada ending film serial jepang, korea, ato melodrama asia lainnya. Di sana pada episode terakhir, pasti ada kata “the end” yang oleh penerjemah-penerjemah bahasa diartikan sebagai “tamat”. Apalagi pada komik-komik yang banyak dijual di toko buku, kebanyakan setiap berakhirnya serial komik, pasti ada “the end”-nya atau “tamat”-nya.

Sayangnya note ini tidak membahas masalah itu.

Ini soal perasaan.

(sepertinya bagian berikut tidak bakalan nyambung dengan bagian pembuka di atas)

Okay, let’s start.

“the end” ini bermaksud untuk menunjukkan bahwa ada akhiran pada sebuah peristiwa yang terekam. At least, my briliant brain has record moments. Apapun itu, sekarang semuanya sudah terekam. Apa yang direkam? Yang pasti (minimal) setiap manusia selalu merekam dengan baik dua hal yang penting; the bad things and the good things. Ini adalah cerita akhiran, alias menggambarkan suatu keterakhiran dari sebuah peristiwa.

Sebuah momen yang indah, menegangkan dan menggetarkan jiwa dan raga, harus berakhir dengan sebuah kisah yang tidak mengenakkan, oleh karena penyesalan.

Ini soal cinta. Tapi tidak berakhir dengan akhiran yang diharapkan. This is the end story.

Tadinya, saya sendiri ingin menyimpan cerita ini sendiri, tetapi ternyata tangan gatal untuk tidak menulis. Sepertinya akan menarik bilamana saya mampu menggambarkan peristiwa saya sendiri di dalam sebuah produk ketikan tangan. Cinta yang saya alami adalah soal keberanian diri dan kelemahan hati yang melekat satu dengan yang lainnya. Kedua hal ini yang kemudian menjerumuskan sisi melankolis saya dalam sebuah jebakan perasaan.

Sekitar hampir sepuluh tahun yang lalu, saya mengalami kejatuhan. Sebuah kejatuhan perasaan yang menyenangkan. Tapi sungguh, saya sangat merasa senang, gembira, luar biasa. Perasaan saya tertambat pada empunya sepatu biru. Teringat betul bahwa sepatu itu dimiliki oleh seseorang yang (sebenarnya biasa saja, tapi….) sungguh menarik. At least, ada sebuah pertunjukan melalui sepatu yang mencerminkan sebuah kepribadian yang membuat orang lain terpesona. Sambil berharap tidak terjangkit penyakit kleptomania, hanya karena sepatu, saya memperhatikan betul orang ini. Setiap gerak-geriknya saya selidiki lebih jauh. Dalam perkembangannya, ada keyakinan bahwa orang ini ternyata memiliki kharisma yang berbeda. Khas sifat nenek moyang yang mencintai perilaku atau attitude yang penuh kerendahan hati.

Bertahun-tahun, saya menguji keberanian saya sendiri untuk melakukan pendekatan yang baik kepada orang ini. Sedemikian sulit karena ada kesadaran pada diri sendiri bahwa kemampuan untuk melakukan komunikasi dengannya terkendala dengan linunya lidah dan kosongnya isi di dalam kepala ketika berhadap-hadapan dengannya. Momen pas untuk sekedar ngobrol saja, menemukannya penuh dengan keragu-raguan. Seorang teman bahkan memberikan nasehat bahwa orang ini begitu luar biasa sehingga (hampir) setiap lelaki mengagumi pesonanya dan bersikap agresif hanya untuk mendapatkan perhatian darinya. Baik, saya mengakui bahwa perempuan ini memang luar biasa. Tapi untuk menunjukkan agresivitas saya, tunggu dulu.

Sekali lagi, ini soal keberanian dan mental yang dipertaruhkan.

Upaya-upaya menumbuhkan perasaan yang peduli, dan selalu memberikan perhatian yang cukup kepada orang ini adalah perjuangan-perjuangan yang sulit. Sulit karena saya tidak ingin memperlihatkan kepada orang-orang di sekitarnya, bahwa saya memang memiliki perasaan yang hendak ditambatkan kepadanya. Ketika kami berada pada sebuah momentum kebersamaan, saya menjadi lemah. Tidak memiliki kemampuan untuk memperlihatkan kejujuran hati. Saya ingin menyentuh tepat pada hatinya, secara tulus, dan tidak berpura-pura. Saya dan karakter saya sendiri. Tapi inilah juga yang menjebak saya sendiri.

Mungkin, saya sungguh ingin memilikinya.

Perasaan ini yang membuat perjuangan makin gigih !!

Tapi dengan tidak dibarengi adanya sebuah keinginan pasti untuk memberikan pilihan. Maka, beberapa tahun kemudian saya baru jujur dan membuka rahasia kepada orang ini. Saya tidak mampu merangkai kalimat yang revolusioner atau yang puitis seperti pujangga-pujangga pada jaman Majapahit. Ungkapan sederhana, bagi saya adalah sebuah kejujuran. Sayangnya, ungkapan sederhana ini (mungkin) tidak cukup baginya untuk memberikan pertimbangan.

Atau (mungkin juga) waktunya tidak pernah tepat.

Dan (bodohnya saya) tidak ada usaha yang lebih keras untuk mencari kepastian.Hanya menunggu.

Bertahun-tahun kemudian, dengan keragu-raguan saya, akhirnya saya menemukan jawaban. Ada keinginan untuk menentukan tujuan. Saya laki-laki, dan saya harus mendapatkan kejelasan. Hanya saja, kesadaran saya sudah terlambat. Hampir putus asa karena ada informasi yang menyesakkan yang harus saya hadapi. Dia ternyata sudah menambatkan tujuan hatinya pada seseorang yang lain. Dan tentunya bukan saya yang beruntung.

Inilah “the end”-mya.

Ketika pada sebuah peristiwa, saya harus melihat bahwa seseorang yang sangat saya kasihi dengan segenap hati, duduk di tempat yang saya inginkan. Namun, bukan saya pendampingnya. Saya hanya sekedar penonton.

Soal perasaan, tidak perlu diragukan. Perasaan saya sudah tidak ada artinya.

This is the end.

Dan saya harus berdiri terpaku melihat upacara tradisional yang sakral.

Nothing. I’m nobody.

Jadi, ada konklusi positif-negatif yang saya dapatkan. Positif: saya mendapatkan sebuah kepastian. Negatif: saya mendapatkan cacat hati. Inilah sebuah penyesalan yang memang harus dilupakan. Ini memang kesalahan saya. Mencintainya terlalu dalam, keberanian yang sekedarnya, sehingga saya tidak berhasil.

Mungkin ini catatan yang pahit. Tapi dahsyat. Benar apa yang ada di film-film drama dan sinetron kacangan:

“Aku baru merasa sungguh-sungguh mencintainya, ketika kehilangan dia.”

Saya menemukan “the end” soal cinta. Dan ternyata saya membuktikan bahwa perasaan saya tidak lekang oleh waktu. Perasaan saya kepadanya tidak pernah berubah sampai pada saat ini. Dan ternyata saya memang tangguh.

THE END.

———-

NB: This note is for my best friends. Finnaly, I got it.

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. james said, on May 3, 2011 at 4:38 am

    the end. tapi biasanya ada part kedua. seperti cerita cinta “tersanjung” :))

    salam kenal mas Setyo

  2. STR said, on May 4, 2011 at 5:21 am

    Akhirilah hidupmu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: