Setyo Pamungkas

Mengenal American Legal Realism dan Scandinavian Legal Realism

Posted in Hukum (Law) by Setyo on January 9, 2012

(a)  American Legal Realism

Aliran ini berkembang pada abad ke-19 sampai ke-20 di Amerika Serikat. Pada mulanya, paham laissez faire merupakan paham yang dominan, dimana semua kegiatan ilmu pengetahuan selalu dipengaruhi oleh formalisme. Apa yang dilakukan pembuat keputusan publik seringkali dianggap tidak jelas. Sehingga realisme hukum Amerika memandang bahwa hukum dalam aksi/tindakan sering kali lebih penting dari hukum yang ada dalam buku.  Realisme hukum Amerika ditandai dengan ciri-ciri umum :

–          Menolak pemikiran yang metafisis, meskipun tokoh-tokohnya merupakan kaum positivis.

–          Pengembangan pengetahuan harus dilakukan secara empiris, dan selalu mencari jalan penyelesaian bagi setiap problem praktis dalam kehidupan sehari-hari.

–          Pendekatannya adalah pendekatan sosiologis dan juga psikologi sosial, yang mengarah pada suatu objek pokok, yakni apa yang secara aktual terjadi, yang dalam hal ini adalah apa yang terjadi di lembaga peradilan.

Dikemukakan pula bahwa pokok-pokok pendekatan hukum sebagai berikut: (1) bahwa hendaknya konsepsi hukum menyinggung hukum yang berubah-ubah dan hukum yang diciptakan oleh pengadilan; (2) Hukum adalah alat untuk mencapai tujuan-tujuan sosial; (3) Masyarakat berubah lebih cepat dari hukum dan oleh karenanya selalu ada kebutuhan untuk menyelidiki bagaimana hukum itu menghadapi problem-problem sosial yang ada. Bahwa untuk keperluan studi, untuk sementara harus ada pemisahan antara is dan ought. Ia tidak mempercayai adanya suatu anggapan bahwa peraturan-peraturan dan konsep-konsep hukum itu sudah mencukupi untuk menunjukkan apa yang harus dilakukan oleh pengadilan. Menurutnya, hal ini merupakan masalah utama bagi golongan realis dalam pendekatan mereka terhadap hukum.[1]

(b)  Scandinavian Legal Realism

Gerakan realisme di Skandinavia dilatarbelakangi oleh diterimanya cara berpikir empiris ala Inggris. Ciri pendekatan dalam realisme Skandinavia adalah pendekatan psikologi. Sehingga ilmu psikologi lebih banyak digunakan untuk mendalami fenomena hukum. Adapun ciri realisme ini diantaranya: pemikiran ini berwatak sosiologis, namun menekankan pada pentingnya hukum untuk ditempatkan di dalam konteks kebutuhan yang faktual di dalam kehidupan masyarakat. Selain itu aspek praktis dari jalannya proses peradilan sangat diperhatikan. Secara umum, ciri-cirinya adalah :

–          Pemikiran berwatak sosiologis, dengan menekankan tentang pentingnya menempatkan hukum dalam konteks kebutuhan yang faktual dari social life.

–          Aspek praktis dari lembaga peradilan dikaji secara teoritis.

Axel Hagerstorm menyatakan bahwa ilmu hukum harus dibebaskan dari mitologi, teologi, dan metafisika. Pemikiran hukum sama dengan pemikiran sosiologis dimana tanpa adanya investigasi empiris, namun harus didasarkan pada analisis konseptual, historis, dan psikologis. Hukum merupakan perasaan psikologis yang kelihatan dari rasa wajib, rasa senang mendapatkan keuntungan, rasa takut akan reaksi masyarakat bila melakukan atau tidak melakukan tindakan tertentu. Jadi ilmu hukum harus bertolak dari kenyataan-kenyataan empiris, yakni yang sesuai dengan perasaan psikologis individu.


[1] Abdul Halim. Teori-teori hukum Aliran Positivisme dan Perkembangan Kritik-kritiknya. Jurnal Asy-Syir’ah. Vol. 42 No. II, 2009. Hal. 397.

Referensi lain bisa lihat di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: