Setyo Pamungkas

Mengatur Kerukunan Beragama di Indonesia: Membebaskan atau Mencederakan?

Posted in Hukum (Law) by Setyo on July 24, 2013

*Mengkritisi RUU Kerukunan Umat Beragama dalam Perspektif Kekristenan

setyoProlog:

Negara Indonesia memiliki cita rasa yang khas dalam potensi-potensi yang dimilikinya. Disebut sebagai ‘negara kesatuan’ yang mengindikasikan ada aspek-aspek yang membuat ‘bersatu’, salah satunya adalah ‘agama’. Dengung utama di negara ini, salah satunya pula adalah kebebasan beragama yang dewasa ini semakin popular dan penuh kontroversi. Keberagaman, ternyata memiliki lebih dari dua sisi kepentingan, antara unik dan ‘unity’ sekaligus berbagai hal lainnya yang menimbulkan persoalan bilamana keberagaman dikaitkan dengan keyakinan (beragama).

Kebebasan beragama dan berkeyakinan bukan merupakan isu baru, karena sejak awal berdirinya bangsa ini, agama dan keyakinan yang hidup di Indonesia menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter bangsa. Pembentukan karakter ini diawali dari penyusunan dan perumusan dasar negara. Bahwa kebebasan beragama, berkeyakinan dan mejalankan ibadah menjadi salah satu hak yang (harus) dijamin oleh negara melalui konstitusinya. Peletak ide kebebasan beragama sebagai salah satu prinsip yang dituangkan dalam konstitusi, tidak akan pernah menyangka bilamana sekarang ini kebebasan beragama belum memiliki bentuk ideal, baik dalam kerangka pengaturan, maupun implementasinya di kehidupan nyata.

Mayoritas sebagian bangsa-bangsa di dunia, termasuk bangsa yang memiliki mayoritas besar populasi dunia, telah meratifikasi instrumen-instrumen kunci internasional yang menegaskan hak atas kebebasan beragama atau berkeyakinan. Meski tidak demikianpun, hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan sangatlah mendasar dan telah diterima dengan begitu luas sehingga telah diterima secara luas sebagai hal yang harus dilindungi menurut kebiasaan hukum internasional.[1]

Agama di Indonesia hidup dan berkembang oleh karena peranan penganutnya yang memperkuat dirinya dalam kehidupan yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengakuan terhadap kebebasan beragama di Indonesia, tidak hanya menunjukkan bahwa negara memberikan peluang bagi warga negaranya untuk memeluk agama sekaligus melaksanakan kewajiban yang diperintahkan melalui ajaran-ajaran agama. Kebebasan beragama yang diakui juga tidak hanya membebaskan warga negara untuk memeluk agama (yang semua jenis agama yang diakui), maupun untuk menerima keyakinan-keyakinan yang memperkuat dirinya dalam kehidupan yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pengakuan terhadap kebebasan beragama di Indonesia, tidak hanya menunjukkan bahwa negara memberikan peluang bagi warga negaranya untuk memeluk agama sekaligus melaksanakan kewajiban yang diperintahkan melalui ajaran-ajaran agama. Kebebasan beragama yang diakui juga tidak hanya membebaskan warga negara untuk memeluk agama (yang semua jenis agama yang diakui), maupun untuk menerima keyakinan-keyakinan yang hidup sebagai ideologi agama.

Sejarah telah membuktikan bahwa Indonesia dapat hidup dalam kedamaian, dimana perbedaan agama dan kehidupan beragama yang beragam, tidak menimbulkan  permasalahan pada masa lalu. Memegang teguh prinsip-prinsip nilai Pancasila dan ‘bhineka tunggal ika’ adalah landasan utama untuk membangun bangsa. Secara moral, kesadaran untuk bertoleransi, menciptakan situasi hidup yang tentram dan aman. Oleh karena itu, prinsip bhineka tunggal ika dan Pancasila menjadi nilai universal yang hidup diantara kehidupan sosio-cultural masyarakat yang selalu berkembang.

Sekali lagi, kebebasan adalah hak dasar manusia, melekat dan tidak dapat dipisahkan dari eksistensi kehidupan manusia di dunia. Kebebasan beragama di Indonesia dimuat di dalam Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 sebagai respon positif atas keberadaan manusia yang memiliki hak asasi. Di dalam Pasal 29 ayat (1) dinyatakan bahwa : “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

Ini adalah bukti otentik dari gagasan para founding fathers Indonesia yang menempatkan kebebasan beragama menjadi hak yang spesial. Penegasan bahwa ada perlindungan akan kebebasan beragama dapat dilihat dari frasa ‘negara menjamin…’ yang justru menunjukkan bahwa ada peranan wajib negara untuk memberikan jaminan. Hak inilah kemudian yang disebut sebagai a constitutional right[2] yang diartikan sebagai  legal right of its citizens (and possibly others within its jurisdiction) protected by a sovereignty’s constitution atau juga didefinisikan sebagai a liberty or right whose protection from governmental interference is guaranteed by a constitution.[3]

Dengan dicantumkannya kebebasan beragama dan negara bermaksud memberikan jaminan atas hak tersebut, maka muncullah kewajiban bagi negara untuk memberikan peluang mutakhir bagi terjaminnya hak tersebut. Bertitik tolak dari hal tersebut, inisiatif dibentuknya undang-undang yang menjamin kebebasan beragama yakni diwujudkan Rancangan Undang-Undang Kerukunan Beragama.

Bagian I: RUU KUB

Agama yang diakui di Indonesia beragam, yakni Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katholik, Khonghucu dan aliran kepercayaan. Keragaman tersebut dipercaya sebagai kekayaan kultural, akan tetapi dapat menjadi suatu potensi konflik. Setelah sekian lama bangsa Indonesia hidup dan berkembang, akhirnya pada dekade-dekade terakhir, masyarakat diperhadapkan pada kenyataan negatif keberagaman agama. Munculnya konflik-konflik dan kekerasan menjadi variasi lain oleh karena perbedaan agama. Dengan keadaan yang demikian, maka perlulah dibentuk Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama.

Beragamnya agama dan aliran kepercayaan di Indonesia sekarang ini sudah tidak dapat diterangkan sebagai kekayaan kultural yang berharga, namun juga menjadi sumber dari keberadaan masyarakat yang makin dinamis secara budaya, moral, sikap, dan akibat sosial lainnya. Fakta-fakta yang terjadi adalah dengan adanya keberagaman agama, pelanggaran atas hak kebebasan beragama terus terjadi sampai dengan hari ini. Rancangan Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama (RUU KUB) kemudian hadir sebagai upaya untuk mewujudkan uraian dari adanya Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 yang menjamin adanya perlindungan bagi warga negara untuk bebas beragama. Selain daripada itu, inisiatif pembuatnya menempatkan bahwa jaminan konstitusi terhadap kebebasan beragama di Indonesia, yang selama ini sudah berlaku, harus direvisi atau dibentuk undang-undang yang baru yang dibangun atas dasar semangat yang sungguh-sungguh yang sesuai dengan Pasal 29 UUD 1945 dan undang-undang lain yang selaras.

Kebebasan beragama yang dituangkan di konstitusi, kemudian adanya kewajiban bagi negara untuk memberikan jaminan pelaksanaan hak, justru kemudian dipahami secara berbeda dengan adanya berbagai peraturan perundang-undangan yang dianggap membatasi. Adanya Penetapan Presiden UU No. 1/PNPS/1965, tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama yang dikukuhkan menjadi Undang-Undang oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 tentang Pernyataan berbagai Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden sebagai Undang-Undang, dianggap sudah tidak sesuai dengan jiwa kebebasan beragama sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945. Uji materi Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 yang diajukan pada Mahkamah Konstitusi RI, karena diyakini bahwa negara kurang berperan memberikan perlindungan dan untuk membuka ruang kebebasan lagi.

Di sisi lain, munculnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Ahmadiyah. Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri telah menandatangani SKB No. 3 Tahun 2008, Kep-033/A/JA/6/2008 dan No. 199 Tahun 2008, tanggal 9 Juni 2008 tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota, dan/Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat, makin memperuncing persoalan kebebasan beragama. Kelompok minoritas tertentu justru makin tersudutkan dan menjadi sasaran kekerasan masyarakat lainnya. Di sinilah negara melakukan pembiaran bagi keadaan-keadaan kriminalitas berbasis perbedaan agama.

Sebagai rancangan undang-undang yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), maka disusunlah Naskah Akademik dan Naskah Rancangan Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama, sebagai syarat mekanisme penyusunan undang-undang di Indonesia. Naskah Akademik versi 1 Agustus 2011 sendiri terdiri dari 89 halaman, dengan 5 Bab, yang pada pokoknya memberikan gambaran mengenai urgensi mengapa undang-undang ini dibuat. Sedangkan RUU KUB versi 1 Agustus 2011 terdiri atas 11 bab dengan 55 pasal.

Garis besar muatan materi dalam RUU KUB berdasar draft per tanggal 1 Agustus 2011 adalah bentuk penyelenggaraan kerukunan umat beragama, yaitu: perayaan dan peringatan Hari Besar Keagamaan, penyebarluasan agama, dimana di dalamnya mengatur mengenai soal penyiaran agama dan pendidikan agama, pemakaman jenazah; dan pendirian tempat ibadah. RUU tersebut sudah dibahas oleh DPR RI pada tahun 2011, dan sampai dengan hari ini belum disahkan. Beragam alasan mengemuka, bahkan RUU yang termasuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2011 itu belum bisa terwujud menjadi Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama hingga memasuki tahun 2013 ini.

Naskah Akademik yang disusun memberikan gambaran utama masalah-masalah yang nantinya diatur di dalam undang-undang kerukunan umat beragama, yakni hal yang dapat menimbulkan titik rawan hubungan antar-agama, antara lain: (1) Pendirian rumah ibadat, mendirikan rumah ibadat adalah hak setiap komunitas agama; (2) Penyiaran agama; (3) Bantuan Luar Negeri; (4) Perkawinan berbeda agama; (5) Perayaan hari-hari besar keagamaan; (6) Penodaan agama; (7) Kegiatan aliran sempalan; dan (8). Aspek-aspek non-agama. [4] Inilah hal-hal yang akan diatur dalam rangka pembentukan undang-undang Kerukunan Umat Beragama.

Bagian II: Masalah Substansial

Inti dasar kenapa RUU KUB disusun adalah untuk menyatukan gagasan dan pikiran serta mengakomodir aspirasi umat beragama, dapat menjembatani pemeluk agama yang mayoritas dan minoritas, menjaga kerukunan umat beragama dengan sikap saling toleransi, saling menghormati dan memberikan kenyamanan dan keamanan sesama umat beragama dalam melakukan ibadahnya masing-masing.[5] Alasan-alasan ini dikemukakan karena Indonesia dipandang mewujudkan pengaturan yang memberikan perlindungan bagi pelaksanaan kebebasan beragama di dalam kehidupan masyarakat.

Lalu, benarkah bahwa apa yang diatur di dalam RUU KUB sudah (dan akan) sesuai dengan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat? Beberapa pasal di dalam RUU KUB (batang tubuh) ternyata menyiratkan berbagai sisi controversial yang belum diterima masyakarat. Kelompok-kelompok masyarakat bahkan memprediksi bahwa masalah yang diatur di dalam RUU KUB dapat mewujudkan negara sebagai subyek yang mengintervensi masyarakatnya. Umat beragama menjadi terancam keberadaanya dan aktivitas ibadahnya. Beberapa masalah terurai secara tidak meyakinkan, diantaranya:

Kerukunan umat beragama diletakkan sebagai sebagai variabel independen yang dapat memberikan pengaruh kepada variabel-variabel hak atas kebebasan yang dijamin oleh UUD 1945. Antara muatan materi dengan judul rancangan undang-undang dianggap tidak sesuai dan tidak tepat. Frasa ‘kerukunan umat beragama’ justru mengindikasikan ada sesuatu masalah dengan kerukunan. Artinya bahwa masyarakat Indonesia perlu diatur karena ‘tidak rukun’.

Tanpa hendak menyangkal adanya kenyataan bahwa beberapa waktu belakangan ini terdapat peristiwa-peristiwa pelanggaran terhadap hak kebebasan beragama, judul rancangan undang-undang mengundang opini-opini yang kritis. Dengan judul yang demikian pula, ada kelompok-kelompok umat, atau bahkan umat beragama (dan/atau keyakinan) tertentu dapat menjadi sasaran yang dianggap sebagai adresaat satu-satunya. Konteks judul ini dapat dianggap bertentangan dengan bunyi Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 yang secara tegas menyatakan adanya jaminan terhadap kebebasan beragama. Apakah judul ‘rancangan kerukunan umat beragama’ memiliki kesamaan persepsi dengan konstitusi?

Definisi-definisi terhadap istilah, juga berujung pada kontroversi yang perlu dipedebatkan. Pasal 1 RUU KUB yang mengartikan istilah yang dapat mengancam kebebasan. Beberapa pengertian yang menimbulkan problematika di dalam masyarakat diantaranya:

“Penodaan Agama adalah setiap perbuatan menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

Pendidikan Agama adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mendidik peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya.

Penyiaran Agama adalah segala bentuk kegiatan yang menurut sifat dan tujuannya untuk menyebarluaskan ajaran sesuatu agama, baik melalui media cetak, elektronik, maupun komunikasi lisan.”

Pengertian-pengertian tersebut oleh SETARA Institute, merupakan materi yang memuat semangat pembatasan jaminan hak konstitusi. Disebut demikian karena yang muncul adalah semangat segregatif[6]-nya terhadap kebebasan beragama dan bahkan jauh dari makna kerukunan umat beragama. Belum lagi berkaitan dengan pasal-pasal yang mengatur tentang perayaan hari besar keagamaan (Pasal 9); penyebarluasan agama (Pasal 11, 12, 13, 17); pemakaman jenazah (Pasal 19); dan pendirian tempat ibadah (Pasal 23-28). Muatan-muatan yang diatur di dalamnya bahkan memberikan peluang bagi negara untuk menggunakan kekerasan untuk melakukan penegakan. Padahal seharusnya undang-undang tersebut mampu memberikan jaminan perlindungan terhadap kebebasan beragama yang merupakan hak asasi.

Pada Pasal 2 RUU KUB menyatakan bahwa kerukunan umat beragama berasaskan: toleransi, kebersamaan, non diskriminasi, dan ketertiban. Lalu asas ini apakah tidak bertentangan dengan keberadaan Pancasila dan UUD 1945. Agama dan keyakinan memang memiliki asasnya sendiri. Di Indonesia asas-asas nilai di dalam agama dan kepercayaan cukup banyak dan tidak dapat digeneralisasi oleh suatu konsep peraturan perundang-undangan yang sifatnya sebagai hukum positif.

Di sisi lain, pluralisme agama dan kepercayaan menjadi berhadapan dengan keberadaan RUU KUB yang tidak mampu mengakomodasi kepentingan ini. Pluralisme berubah menjadi isu negatif bagi keberadaan RUU KUB ini. Secara otentik di dalam naskah-naskah kitab suci masing-masing agama, terdapat nilai bahwa kebenaran moral menyangkut dengan kerukunan antar umat, bukan karena stagnasi ajaran. Kerukunan juga merupakan sesuatu yang dinamik, oleh karena kerukunan tersebut secara dinamis senantiasa dikaitkan dengan kebebasan. Sebenarnya kerukunan tidak terutama dihasilkan dari aturan yang bersifat eksternal, yakni melalui peraturan perundang-undangan, namun secara otentik tumbuh dari dalam penghayatan iman masing-masing individu dan melalui dinamika perjumpaan antar umat yang berbeda. Dengan keadaan tersebut akan lahir konsesus-konsesus minimum bersama yang mengatur kehidupan bersama yang bebas dan rukun.[7]

RUU KUB mengatur pendidikan bagi warga negara, terkhusus perihal pendidikan agama. Pasal 13-16 RUU KUB memanifestasikan bahwa kepentingan agama tidak bisa dilepaskan dari pendidikan agama. Materi muatan ini bertentangan dengan konsepsi pendidikan bagi warga negara yang telah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Prinsip pertentangannya adalah bahwa setiap warga negara sebagaimana diatur di dalam Pasal 31-32 UUD 1945. Bahwa negara telah menerbitkan undang-undang untuk pendidikan nasional di Indonesia, maka seharusnya ada kesatuan sistem yang menempatkan warga negaranya memperoleh pendidikan yang layak dan sesuai.

Jadi, adanya RUU KUB yang bermateri muatan pendidikan agama sebagai sebuah penegasan atau malah mengatur lain? Problem ini muncul karena pendidikan agama yang dimaksud di dalam RUU KUB nantinya akan sulit dilaksanakan oleh stakeholder di bidang pendidikan. Mekanismenya rumit dan sekali lagi berhadapan dengan UU Sisdiknas. Siapa yang berhak untuk melaksanakan pendidikan agama akan menjadi masalah tersendiri pula.

Penyiaran agama di dalam RUU KUB diatur di dalam Pasal 17 Ayat (2), yang berbunyi “penyiaran agama ditujukan kepada orang atau kelompok orang yang belum memeluk suatu agama”. Pasal ini cenderung aneh, karena di Indonesia sudah jelas bahwa ada ‘agama’ dan ada ‘kepercayaan’. Demikian adanya sehingga pengaturan ini dipandang kurang perlu dan tidak menghargai keberadaan keyakinan-keyakinan lain yang hidup di dalam masyarakat.

Penyiaran agama jelas menimbulkan masalah karena berkaitan erat dengan lalu lintas hubungan umat antar agama. Interaksi antar umat beragama tidak dapat tiba-tiba didominasi salah satu pihak untuk melakukan metode-metode penyebaran agama yang aktif. Tujuan penyiaran kepada orang yang belum memeluk agama, selain tidak memberikan penghargaan kepada pemeluk kepercayaan, bertentangan dengan indentitas tiap warga negara. Hal ini dikarenakan tiap warga negara yang memiliki Kartu Tanda Penduduk, tidak dapat mencatumkan status ‘atheis’ atau ‘tidak beragama’ atau istilah lain yang menunjuk pada keberadaannya sebagai subyek yang bukan umat beragama.

Keadaan lainnya adalah bahwa keluarga juga dapat terancam  dengan keberadaaan muatan materi ini. Tiap anak yang ada di dalam keluarganya atau bayi yang baru lahir bisa saja jadi sasaran ‘penyiaran agama’ yang dilakukan oleh pihak lain selain keluarga.

Masalah diskriminasi, prosedur dan lain sebagainya juga menjadi isu yang mengiringi pembentukan RUU KUB ini. Diskriminasi terhadap hak untuk menjalankan ibadah oleh warga negara nampak pada pengaturan pendirian rumah ibadah, pemakaman jenazah, dan lain sebagainya.

Pasal 23-28 RUU KUB misalnya, mengatur mengenai bagaimana rumah ibadah didirikan dengan tetap menjaga kerukunan, tidak mengganggu ketentraman dan ketertiban umum serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Permasalahannya adalah bahwa selama ini pendirian rumah ibadah telah diatur di dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) No. 9/2006, No. 8/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama. Peraturan ini saja penuh pro dan kontra karena pelaksanaan di kenyataannya justru menciptakan adanya konflik dan kekerasan agama.

Pada pasal lain pula, diatur tentang penyalahgunaan dalam kegiatan politik. Pasal 6 ayat (2) RUU KUB memang memuat materi perlindungan terhadap penyalahgunaan dalam kepentingan politik, sehingga sulit dalam penegakannya nanti. Pemakaman jenazah juga menjadi persoalan dengan adanya Pasal 19 yang hendak mengatur pengelompokan jenazah berdasarkan agamanya. Dan bahkan keyakinan untuk menganggap agama yang dianut adalah agama yang paling benar dilarang oleh negara, sebagaimana dimuat dalam Pasal 45.

Bagian III: Kebebasan Beragama dalam Hidup Kekristenan 

Bagaimanakah Gereja harus bersikap dalam merespon adanya RUU KUB? Dasar hidup kekristenan yang dikembangkan melalui iman di dalam Gereja apakah perlu juga memberikan pendapat dalam RUU KUB?  Memang sebagai bagian dari kehidupan beragama di dalam masyarakat, Gereja sudah selayaknya memberikan sumbangsih pemikiran serta kontribusi yang lain dalam pengembangan kehidupan yang tertib dan tentram.

Article 18 dari the Universal Declaration of Human Rights dan Article 18 dari  the International Covenant on Civil and Political Rights menuangkan adanya pengakuan yang sama tentang kebebasan beragama, yakni “freedom of religion or Freedom of belief is a principle that supports the freedom of an individual or community, in public or private, to manifest religion or belief in teaching, practice, worship, and observance; the concept is generally recognized also to include the freedom to change religion or not to follow any religion.”[8] Pengakuan ini merupakan bukti bahwa kebebasan beragama diakui sebagai hak universal dan layak mendapatkan perhatian dari semua warga dunia.

Dalam pengakuan itu pula dinyatakan bahwa  kebebasan beragama sebagai “freedom of thought, conscience, religion and belief as a nonderogatable human right”.[9] Pernyataan-pernyataan ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan kepada hak asasi manusia, khususnya kebebasan beragama (freedom religion). Sebagai hak yang diakui semua bangsa di dunia, maka keberadaan kebebasan beragama dalam pelaksanaannya disorot dan diperhatikan oleh semua umat manusia. Bahwa kemudian terjadi pelanggaran atasnya, maka masyarakat dunia mengamati kemudian memberikan penilaian bagaimana pelaku-pelaku hak berkontribusi terhadap keadaan tersebut. Lihat pula bagaimana bangsa-bangsa di dunia menuangkan pengakuannya di dalam konstitusi, misalnya Article 10 the European Charter of Fundamental Rights yang menyatakan bahwa:  “Everyone has the right to freedom of thought, conscience and religion. This right includes freedom to change religion or belief and freedom, either alone or in community with others and in public or in private, to manifest religion or belief, in worship, teaching, practice and observance.”[10]

Oleh karena diakui sebagai bagian dari hak asasi manusia maka Indonesia memberikan jaminan bahwa warga negara Indonesia memilik hak untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu. Jaminan tersebut tegas termuat dalam Pasal 29 ayat (2) UUD195 yang mana pernyataan tersebut, mengindikasikan bahwa negara memiliki kepentingan yang wajib untuk dilakukan dalam rangka memberikan perlindungan. Dalam kaitanya sebagai hak yang diakui secara universal melalui konvensi, maka penting adanya pengaturan kebebasan beragama di Indonesia, melalui peraturan perundang-undangan. Karena kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia telah tercantum dengan tegas dalam UUD 1945, dengan demikian telah resmi menjadi hak konstitusional setiap warga negara atau “constitutional rights”.

Harus diakui bahwa mengatur agama di dalam hukum positif, mengandung potensi negatif. Dimana urusan agama sebenarnya merupakan urusan yang pribadi antara manusia dengan Tuhan YME. Kepentingan negara seharusnya hanya hadir sebagai pelindung bagi manusia yang menjalankan ibadahnya. Kebebasan memang perlu diatur untuk dibatasi (non-derogable rights). Akan tetapi mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta, perlu dilandasi sikap berhati-hati dalam menetapkan kebijakan. Agama tidak bisa kemudian diatur dalam kerangka peraturan perundang-undangan sebagai bentuk penjaminan, bilamana kepentingan agama tidak mendesak untuknya. Aksi pemerintah dan sikapnya lebih penting. Wibawanya sebagai pemimpin tidak boleh direduksi dalam peristiwa-peristiwa pembiaran.

Menurut Setara Institute[11] di Jakarta, terdapat 216 kasus serangan terhadap minoritas agama pada 2010, 244 kasus pada 2011, dan 264 kasus pada 2012. Sedangkan Wahid Institute, pemantau lain di Jakarta, mendokumentasikan 92 pelanggaran terhadap kebebasan agama dan 184 peristiwa intoleransi beragama pada 2011, naik dari 64 pelanggaran dan 134 peristiwa intoleransi pada 2010.[12] Hal ini membuktikan bahwa umat Kristen di Indonesia masih menjadi sasaran perilaku-perilaku intoleran yang dilakukan pihak lain. Umat Kristen bukan satu-satunya, karena ada pula pihak-pihak lain yang mengalami persoalan yang sama di Indonesia.

Sekian banyak kasus yang terjadi, sering diantaranya terdapat hambatan-hambatan bagi komunitas Kristen untuk mendirikan tempat ibadah, kemudian mendapat kekerasan oleh kelompok lain. Ijin mendirikan bangunan (IMB) selalu menjadi isu tersendiri bagi umat Kristen yang hendak menjalankan ibadahnya. Beberapa kasus diantaranya mencatat bahwa pihak Gereja selalu disangka melakukan manipulasi data untuk memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Iman kristiani mendasarkan hubungan antar manusia adalah dengan kita saling mengasihi. Interaksi dengan komunitas lain yang berbeda agama adalah respon iman Kristen terhadap kehadiran Allah yang menyelamatkan manusia dan pengharapan akan terwujudnya penggenapan segala sesuatu. Perjumpaan dengan subyek-subyek penganut agama lain menjadi suatu peristiwa yang seharusnya dapat dilakukan dengan tulus untuk menolong dan melayani orang lain menghadapi krisis kemanusiaan. Inilah misi kristiani yang bersifat holistic, yakni yang meliputi seluruh aspek kebutuhan manusia. Misi kristiani adalah wujud dari keperdulian kita kepada sesama manusia.

Manusia merekam kekerasan dengan mudah, menilai keadaan dengan cara manusiawi juga. Umat Kristen ditempatkan sebagai bagian masyarakat yang berada pada sisi yang tersudut. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa nilai Kristen mengajarkan kasih kepada tidak hanya penganutnya namun juga mendorong agar sikap-sikapnya tidak menepikan kehadiran umat beragama yang lain. Kekerasan yang dialami oleh umat Kristen seharusnya tidak menjadi alasan untuk melakukan upaya pembalasan dalam tindakan-tindakan yang tidak mencerminkan nilai-nilai kristiani.

Indonesia merupakan sebuah negara yang majemuk, tidak mudah untuk mewujudkan harmoni atau kerukunan diantara warga negara, karena masing-masing kelompok memiliki keyakinan, pendapat dan aspirasi. Yang perlu diingat adalah bahwa Allah mengajarkan Tuhan itu baik kepada semua orang (Mazmur 145:9) serta barang siapa tidak mencintai, ia tidak menyembah Allah (1 Yoh 4:8). Hal ini berarti bahwa ada perilaku mendasar bagi setiap individu Kristen untuk tidak mengajukan perbedaan mengenai manusia serta hak-hak yang bersumber pada Allah, untuk membedakan satu dengan yang lainnya.

Pluralisme mengarah pada suatu perilaku serta pengakuan terhadap kepluralitasan atau keberagaman aspek kehidupan: agama, suku, budaya, bangsa dan sebagainya. Pluralisme, mengakui kenyataan tentang adanya berbagai agama dan kepercayaan yang tumbuh dan berkembang di sekitar kita dan masing-masing mempunyai ajaran dan kebenarannya sendiri. Tidak digunakan untuk membandingkan-bandingan, mempertentangkan apalagi mempersatukan kebenaran agama-agama yang berbeda.

Gereja harus mampu mendorong untuk menciptakan kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Hal ini dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan praktek hidup kekristenan secara benar dan efektif, dengan mewujudkan kasih dalam rangka kebahagiaan hidup bermasyarakat. Di samping itu, Gereja harus berperan untuk memfasilitasi penganut Kristen dan bahkan umat lainnya untuk kebutuhan yang hakiki dan cita-cita setiap insan manusia yaitu: damai sejahtera lahir dan batin dalam dunia yang harmonis, rukun dan damai.

Dalam kerangka kerukunan umat beragama, sebagai bagian dari eksistensi negara dan masyarakat, Gereja juga harus berjuang untuk memberikan ide-ide yang inovatif dalam penyusunan dan perumusan RUU KUB yang dapat memenuhi ekspektasi umat Kristen, nilai-nilai kristiani yang dikembangkan tanpa meminggirkan kepentingan umat yang lain. Dan Gereja harus menunjukkan bahwa nilai-nilai kristiani dapat menjadi referensi bahwa kerukunan umat beragama tidak hanya diwujudkan dalam perilaku nyata, namun juga menggugah kesadaran manusia untuk tunduk pada kecintaannya kepada Tuhan YME dengan melandaskan hubungan antar manusia melalui cinta kasih yang nyata.

Epilog:

Kebebasan beragama merupakan hak asasi yang dilindungi Undang-Undang. Tetapi, dalam pelaksanaannya tidak boleh merampas hak orang lain sebagaimana yang telah diatur dalam UUD 1945 pasal 28 (J) ayat 2 pasal 28 (E), 28 (i) dan pasal 29. Hal itu landasan pemerintah berpikir mengevaluasi dan melakukan pembahasan. Adalah pelanggaran HAM bila negara membatasi kebebasan beragama ini pada “keharusan memeluk agama tertentu”.

Sebagai murid Kristus, maka perlu untuk mendorong diri sendiri dan warga masyarakat yang lain dengan terus menerus mengembangkan kesadaran dan pengakuan akan masalah dan kebutuhan bersama lewat dialod kemanusiaan dan persaudaraan yang bermartabat, me=enumbuhkembangkan sikap dasar untuk saling terbuka satu sama lain tidak hanya sesama umat, memahami dan mengakui, menghargai dan berdialog dengan mengedepankan kepentingan bersama yang tertib. Di samping itu, umat Kristen harus terus berusaha untuk senantiasa menghindari cara-cara yang dapat merusak kerukunan dan toleransi.

 

*Salah satu materi yang disampaikan dalam Pelatihan Hukum di GKJ Tuntang Timur Kab. Semarang yang diselenggarakan oleh Unit Bantuan dan Pelayanan Hukum, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga bekerja sama dengan Majelis GKJ Tuntang Timur, pada  tanggal 29-30 Juni 2013. Download materi klik disini.

 

 


[1] Bahia Tahzib-Lie, dkk. Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan: Seberapa Jauh? Sebuah Referensi tentang Prinsip-Prinsip dan Praktek. Oslo Coalition on Freedom of Religion of Belief, Brigham Young University. Penerbit Kanisius; Yogyakarta, 2010. Hal. 24.

[2] Kebebasan beragama Amerika Serikat dimuat dalam US Constitution, yakni termasuk dalam constitutional right  yang didefinisikan: rights given or reserved to the people by the U.S. Constitution, and in particular, the Bill of Rights (first ten amendments).

[3] Webster’s New World Law Dictionary Copyright © 2010 by Wiley Publishing, Inc., Hoboken, New Jersey. Used by arrangement with John Wiley & Sons, Inc. Definisi lain menyatakan bahwa constitutional right: liberty or right granted under a national constitution. Also called constitutional freedom (terjemahan bebasnya: kebebasan atau hak yang dijamin berdasarkan konstitusi nasional. Atau disebut juga sebagai kebebasan konstitusional).

[4] Naskah Akademis RUU KUB versi 1 Agustus 2011, hal, 25-26.

[5] Jiffry F Kawung, Peningkatan Kualitas Kerukunan Umat Beragama. Bahan presentase di pelbagai kesempatan untuk membawakan materi tentang keurukunan hidup beragama. (posting by Lastiko). Hal. 5.

[6] Segregatif merupakan terjemahan dari segregative yang diartikan “the act or process of segregating or the condition of being segregated,” atau “the policy or practice of separating people of different races, classes, or ethnic groups, as in schools, housing, and public or commercial facilities, especially as a form of discrimination”

[7] Weinata Sairin, Victor Imanuel Tanja, dan Eka Darmaputera. Berbagai Dimensi Kerukunan Umat Beragama (artikel) dimuat di dalam Kerukunan Umat Beragama Pilar Utama Kerukunan Berbangsa: Butir-butir Pemikiran. Penyunting Weinata Saurin. Gunung Mulia; Jakarta, 2006. Hal. 29-30.

[8] Article 18, Universal Declaration of Human Rights.

[9] Knox Thames, Making Freedom of Religion or Belief a True EU Priority. EUI Working Papers, RSCAS 2012/41. Robert Schuman Centre For Advanced Studies Religiowest.

[10] Article 12 of the American Convention on Human Rights of the Organization of American States, dan Article 8 of the African Charter on Human and People’s Rights from the African Union memiliki substansi yang bermakna sama, yakni bahwa ada kesadaran bagi keberadaan setiap individu di dunia ini memiliki kebebasan untuk beragama atau tidak beragama, berkeyakinan atau tidak berkeyakinan, serta menjalankan atau tidak ibadah menurut agama atau keyakinannya yang pelaksanaannya harus bebas dari pembatasan (individuals have unlimited freedom to believe or not to believe, to change religion, as well as the freedom to worship, either alone or in community with others, subject to only the narrowest of limitations).

[11] Setara Institute, “Laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan 2007-2011”

Lihat: http://www.setarainstitute.org/en/category/galleries/indicators

[12] Lembar presentasi Wahid Institute dalam konferensi pers di kantornya Jakarta, 29 Desember 2011 yang dihadiri Human Rights Watch.

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Jerry Tobing said, on November 15, 2013 at 3:42 pm

    Untuk menegakkan kembali UUD 45 kita harus memilih Presiden yang tepat. Yang tegas, adil, berani dan bersih. Tidak seperti Presiden yang sekarang, tidak tegas, plin plan dan cenderung berkompromi dengan pelaku korupsi.

  2. dian anggraeni said, on March 13, 2014 at 6:15 am

    jadi harus pilih siapa yaa yang cocok jadi presidan

  3. Agama Siapa? | Setyo Pamungkas said, on March 14, 2016 at 7:10 am

    […] Wujud nyata dari toleransi adalah kerukunan. Baik kerukunan umat, maupun kerukunan manusia dalam arti seluas-luasnya. Bahwa melaksanakan kewajiban agama menunjukkan kehadiran perlindungan dari masyarakat lain yang berbeda dalam hal kebebasan beribadah. Jadi masyarakatlah yang seharusnya dapat menjadi wujud perilaku antar umat yang humanis dan menghargai perbedaan. […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: