Setyo Pamungkas

Jakarta Si Anak Emas, Salatiga Dikenang

Posted in Uncategorized by Setyo on January 13, 2016

Monumen Nasional di Jakarta

Setiap hari saya melihat televisi di pagi hari. Saya suka melihat dan mengamati pemberitaan soal apa yang terjadi pada bangsa ini, sekaligus bumbu-bumbu penyedapnya. Kadang tragis, kadang sepele, kadang tidak meyakinkan, kadang gossip, dan kadang lebih kepada mengungkap kelemahan-kelebihan sesuatu.

Bangsa ini terdiri dari berbagai macam latar belakang. Baik SARA, baik pendidikan, baik kekayaan, dan lain sebagainya. Pemerintah NKRI menjadi pelindung dan pengayom atas keterbedaan tersebut. Belum lagi jangkauan wilayah negara ini dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampi Pulau Rote, harus dirangkul. Seberapa besar tangan dan badan Pemerintah RI sehingga semuanya bisa bersandar kepadanya?

Kembali soal berita. Di setiap tayangan berita, selalu dimulai dari pemberitaan yang berlatar belakang Jakarta. Semua tetek bengek berita, pasti bermula dari Jakarta. Dari pemberitaan soal elit politik sampai pada selokan mini yang super kumuh, semua dari Jakarta. Sekali lagi J-a-k-a-r-t-a.

Semua hal dari bangsa dan negara ini selalu berhulu dan berhilir dari Jakarta. Harap dimaklumi, semua hal di NKRI ini ada di Jakarta. Semua hal yang diinginkan ada di Jakarta. Dari uang, hiburan, prostitusi, politisasi, korupsi, kriminal, dan lain-lain. Bahkan Pemerintahan di Jakarta dipandang lebih menarik dari kota-kota lain dan daerah-daerah lain di Jakarta. Ya Jakarta adalah bintangnya.

Saya masih ingat ketika itu tahun sekitar tahun 2009 saya menjejakkan kaki (lagi) di Jakarta. Terpengaruh oleh segala macam bujukan orang, motivasi, dan segala informasi tentang Jakarta, merantaulah saya ke sana. Penuh semangat, membawa uang (yang sekiranya cukup) untuk mencari pekerjaan di sana. Jakarta, menurut kata teman-teman dan kerabat, adalah tolok ukur utama untuk mendapatkan cita-cita. Saya juga tertarik! Dan wow, luar biasa. Saya sungguh-sungguh ke sana.

Jakarta sebuah magnet. Menarik semua subyek dan segala kepentingannya. Saya jadi kutub lawan yang tiba-tiba kemudian datang ke sana.

Begitu senangnya saya, menikmati kedatangan di Jakarta. Macet, polusi, lalu lalang, dan panas, hal-hal yang saya alami. Berbeda dengan masa-masa dulu ketika saya maen ke Jakarta, kali itu sangat berbeda. SAYA HENDAK MENAKLUKKAN JAKARTA! Terdengar ‘wah’ tapi saya tidak peduli. Saya harus berhasil. Imaji bergambar saya berdasi dan menjadi sosok yang berhasil di Jakarta. Imaji yang menjanjikan.

Beberapa hari di Jakarta, macet dan cara perjalanan ke satu tempat ke tempat lain, menjadi perhatian saya. Ah, ini seru sekali kalau macet. Coba kalau di Salatiga, wah… jarang sekali macet. Macet itu makin membuat saya senang. Mengasyikkan bagi saya hidup di kota besar ini. Semua orang sibuk. Tidak lagi peduli dengan hambatan macam ini.

—-

Sekali lagi! Jakarta adalah bintangnya. Semua hal ada di sana. Kota ini adalah bagian kecil tapi memiliki pengaruh tiada tara. Entah mengapa, hiruk pikuk bangsa ini, yang seluas ini, terangkum di Jakarta. Bukti sederhana: lihatlah halaman depan (headline) tiap koran yang terbit pagi hari. Di sana ada kata pertama: JAKARTA. Inilah Indonesia, yang cuma muncul satu kata yang menggambarkan semua hal: JAKARTA.

Negara ini mungkin hanya punya satu ukuran. Mencerminkan semua, menyembunyikan semua hal yang baik di negeri ini, karena cuma Jakarta-lah biangnya. Yang terjadi adalah Indonesia seringkali di-sama-dengan-kan Jakarta. Kalau di sana tidak berhasil, maka Indonesia tidak pernah berhasil. Mari kita sukseskan Jakarta.

Bundaran Kota Salatiga

 

Itulah kemudian saya cuma sekecil bakteri diantara 200an juta warga negara Jakarta. Saya mau memperkenalkan, ada kota kecil yang disebut Salatiga. Sebuah kota yang baru-baru ini menjadi Kota Tertoleran nomor 2 setelah Pematang Siantar. Sebuah kota yang jauh dari keramaian huru-hara politik. Dan dengan nilai toleransi yang bisa dibanggakan. Kota dengan 4 Kecamatan dan 23 kelurahan. Tidak mengenal banyak media untuk bisa disorot. Kota yang hidup dengan segala keriuhannya sendiri. Tidak mengerti bagaimana harus mendongkrak kemewahan.

Tol Semarang – Solo

Disebut juga kota para pensiunan. Tengok saja di Salatiga, sekarang makin banyak perumahan. Dibeli orang-orang kaya yang punya uang melimpah, yang notabene mengenal Salatiga sebagai kota yang dingin dan nyaman untuk tinggal. Kota ini kemudian bisa jadi tidak lagi terjamah karena jalan tol Semarang-Solo lewat di ‘atas’ nya. Proyek ambisius jalan negara yang nantinya, dapat menyebabkan Kota Salatiga makin jauh dari pandangan mata. Ya… inilah Salatiga.

 

Jauh dari keramaian.

Hidup saya ada di Salatiga. Laiknya warga negara yang lain, saya di Salatiga disuguhi arena politik, kekerasan, kemunafikan, ketidakpedulian, kejahatan, kemewahan, kedigdayaan, ke-antikorupsian, kehidupan yang jauh dari jangkauan saya, yang terangkum dalam tampilan ‘Jakarta’ yang mengagumkan. Saya cuma jadi penikmat. Bukan pelaku sebagaimana mereka yang memerankan drama di Jakarta sana.

Lain Jakarta, lain Salatiga.

Ya ibarat anak, Jakarta adalah Anak Emas. Sedang Salatiga? Well…🙂

 

 

—-

Tulisan ini pendapat pribadi penulis.

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. obednugroho said, on January 13, 2016 at 2:27 am

    sementara orang-orang lain, di berbagai belahan Indonesia, mungkin barat timur, melihat jawa adalah rajanya, yang dipikir makan sisanya…😀

  2. obednugroho said, on January 13, 2016 at 2:28 am

    sementara orang-orang lain, di berbagai belahan Indonesia, mungkin barat timur, melihat jawa adalah rajanya, yang dipinggir makan sisanya…😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: