Setyo Pamungkas

Destruksi Moral Ala Media Massa

Posted in Uncategorized by Setyo on May 11, 2016

Idealnya masyarakat menjadi cerdas melalui penyebaran informasi. Cerdas menerima, mampu menyerap informasi yang tersebar dengan bebas, membentuk opini, dan membangun kekuatan sosial di lingkungannya. Inilah misi utama media massa (baik pers cetak dan elektronik, penyiaran, internet, dan social media) dalam membentuk karakter-karakter manusia yang berwawasan. Alangkah indahnya.

Sekarang, masyarakat Indonesia tak lagi mengenal batasan-batasan penyebaran informasi. Semua sudah terbuka, dapat diakses dari mana saja, bebas merdeka. Semacam itu sehingga kini masyarakat terpolarisasi untuk terus mengejar informasi dalam bentuk rasa penasaran yang didorong oleh kemudahan sarana informasi. Dan pada akhirnya pertemuan kepentingan pemodal bisnis media dan kebutuhan akan informasi, menghasilkan bias-bias manipulasi opini. Masyarakat konsumerisme dan kaum kapital makin erat membentuk kesimpulan-kesimpulan naif. Hasilnya dalam wujud: kekerasan media.

Benarkah kemudian masyarakat terzalimi dengan wujud kekerasan media? Belum tentu. Di saat kebebasan informasi berkembang, di sisi lain etika kemudian menjadi tuntunan moral. Kekerasan media tak mampu dihadapi oleh moralitas manusia Indonesia yang berada pada masa transisi informasi. Etika komunikasi tak berdaya menghadapi maraknya kekerasan dalam media. Pornografi, kekerasan naratif, agresivitas, virtual violence, symbolism violence, dan kekerasan lembut yang manipulatif merajalela tanpa adanya struktut kuat melawannya (Haryatmoko, 2007; 119).

Dimanakah sumber moral yang didengungkan oleh (katanya) masyarakat beriman di Indonesia, nasionalisme, kesantunan, dan nilai kebudayaan di negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika ini? Tengok saja apa isi siaran televisi, surat kabar, berita online, dan daring kita sekarang. Pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, KDRT, dan lain sebagainya. Kita lebih sering mendengar dan melihatnya. Jarang mendengarkan prestasi, kebanggaan, nasionalisme, dan pendidikan.

Kuasa media sudah menjadi besar dan mudah disalahgunakan. Kuasa media digunakan untuk mempengaruhi publik dengan tidak terkendali. Etika tergusur. Padahal norma moral sangat relevan dalam konteks media, dan kewajiban media untuk menyampaikan yang benar (K. Bertens, 2009; 76).  Etika bukan lagi bicara benar salah. Ia bersuara tentang pantas dan tidak pantas. Etika menerawang gejala dalam bingkai mata hati, bukan dengan mata pancaindra semata. Kehidupan akan menjadi indah dan berbudaya ketika radar etika bekerja.

Masyarakat semakin abai dengan moralitasnya sendiri. Kekerasan yang disajikan secara terus menerus tanpa berhenti, dikonsumsi dengan beragam cara. Moral hanya sebatas opini. Menyalahkan tanpa mengurai makna intuitif hati nurani. Kepalsuan makin nyata dan masyarakat menjadi tidak tulus. Masyarakat berlomba-lomba untuk mencari informasi tentang pemerkosaan, pembunuhan, terorisme, perampokan dan berita kekerasan lainnya, dibanding membentuk filter agar mental kebodohan moral tidak menyerang alam berpikirnya. Di lain tempat, lembaga-lembaga media berjuang untuk mengunggulkan ekskulisvisme berita dengan dasar kekinian dan detail isi serta dramatisasinya.

Ah, bangsa kita adalah kaum remaja yang sedang mengalami pubertas pertama di bidang informasi. Jati diri kan masih dicari. Karakter kan masih dalam tahap pembentukan. Jaman ini jaman reformasi! Tapi lupa transformasi moral.

Etika hidup sedang berdampingan dengan sisi moral masyarakat media yang tidak tulus. Etika moral, etika media etika komunikasi, etika hukum, dan jenis lain etika, hanya ada di sebelah-sebelahnya. Hidup media dikungkungi moralitas masyarakat yang berpura-pura. Standar etika juga hanya ada di permukaan laut penyebaran informasi. Lupakan saja paham yang disebarkan Aristoteles yang menyatakan bahwa etika dibangun dalam konsep kebajikan dan hubungan harmonis antar manusia melalui praktek-praktek kebiasaan yang baik dan berbudi. Kebajikan itu dibangun dengan moralitas kita yang informatif. Berita sensasional dan tidak mendidik adalah tantangan.

Sampai kapan kita masyarakat Indonesia yang ber-Pancasila ini jadi sasaran kekerasan media?

Moral yang baik adalah modal dasar manusia. Budaya untuk menikmati kebenaran dan kesahihan informasi harus terus diciptakan dengan panduan nilai-nilai etika. Bangsa yang berbudaya baik, mendorong masyarakatnya untuk menghayati kehidupan yang memiliki pengetahuan moral yang dikompresi menjadi perilaku-perilaku manusia yang santun. Agama serupa bintang pemandu, ukuran moral karena keimanan tetap suci dalam pikiran dan perbuatan. Nasionalisme menguatkan mental dari gempuran keburukan dan serangan perpecahan. Nilai kesusilaan menempatkan kita pada pemikiran-pemikiran progresif. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah alat-alat kesuksesan transformasi kehidupan yang lebih baik.

Ya, kita dan generasi berikutnya harus melawan penyebaran informasi yang tak malu-malu menjual kekerasan!

Pustaka:

Haryatmoko, Etika Komunikasi. Penerbit Kanisius; Yogyakarta, 2007)

K. Bertens, Perspektif Etika Baru. Penerbit Kanisius; Yogyakarta, 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: