Setyo Pamungkas

Berhenti

Posted in Uncategorized by Setyo on December 14, 2016

Damai sekarang harganya mahal. Damai juga sulit lagi diperoleh dengan mudah dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan belakangan ini. Yang tersaji saat ini: kebencian, rasa curiga berlebihan, kesukaran, atau bahkan dengki. Mulai mengakar dalam setiap detik pada kebanyakan orang dewasa ini. Di Indonesia ini, rasa damai menjadi bagian yang mulai terpinggirkan. Tak bisa lagi digali dari mana munculnya saling membenci ini. Tak mampu lagi dirunut bagaimana kedengkian dan ancaman ketidakrukunan ini. Semuanya sudah buyar dan hilang dengan dahsyat.

Isu menjelma menjadi dewa. Gossip berubah menjadi ideologi. Nista berkembang sebagai kosakata universal yang trendi. Bahkan ‘bunuh’ biasa digunakan untuk mencaci yang dimaki. Makin kasar makin gebyar. Makin banyak makin berkuasa. Menekan dengan paksa, menyuruh dengan massa, menggugat dengan berdiri di jalanan. Mayoritas adalah kekuasaan. Minoritas adalah sasaran. Saya cuma semak-semak.

Teknologi sekarang menjadi ahli. Menyediakan segala kebutuhan. Untuk menghujat yang lain. Untuk mengoyak hati. Menenggelamkan kesenangan, memunculkan perdebatan palsu. Teknologi adalah Tuhan baru bagi kebanyakan. Generasi makin mengusahakan kemarahan kepada yang lain. Teknologi melekat pada kebiasaan baru: social media. Semua menjadi kompeten untuk menggagas kemunafikan. Yang membenci menjadi buncit arogansi. Yang dihujat menangis dalam kotak pembelaan. Yang mendengar terus tertekan. Yang melihat meragukan penilaian.

Tak ada lagi salah dan benar. Yang ada hanya antara penting tidak penting. Palsu menjadi hebat, yang bersahaja menjadi buntu pemikiran. Sampai di persimpangan antara luka dan keniscayaan.

Saya berhenti.

Menimbang kehadiran saya di sini. Smartphone tidak lagi secerdas yang saya bayangkan. Internet menjadi pengikat kebiasaan kekinian. Kuota, sinyal, WiFi, pulsa adalah modal eksistensi. Saya ragu.

Saya berhenti berdoa meminta kesabaran. Kali ini saya berdoa untuk mensyukuri kenikmatan masa lalu. Masa dimana berlarian di kampung, melewati semua tempat ibadah sekitar. Bunyi-bunyian yang mendamaikan. Lagu-lagu yang menggoyangkan kegembiraan. Masa dimana teknologi adalah alat. Semacam alat untuk mempermudah yang sukar dan membantu meringankan.

Kalimat sekarang bukan kalimat yang membangun perasaan yang kecil. Kemarahan dan kedengkian belakangan mencerminkan makna mutlak dalam kalimat. Kalimat itu hendak saya doakan juga. Biar dipandang sebagai ide memeluk keindahan perbedaan. Saya merindukan massa yang berjuang karena senasib sepenanggungan. Bukan berpura-pura perang melawan penindasan.

Kekasih yang saya rindukan bukan lagi manusia dalam kostum kharisma yang rapi. Tapi saya rindu keinginan dan gagasan kedamaian. Tidak melulu kelambu samar-samar. Saya mau memulai mengasihi. Setiap detik adalah kesayangan. Hidup untuk mencintai. Menempatkan hati dalam pelukan menyayangi.

Saya berhenti sekali lagi. Berhenti memuji dengki, iri, benci, hujat, dan sisi negatif lainnya. Karena saya akan meninggalkannya. Memulai yang baru lagi. Mengajak serta yang lain untuk mengungkapkan rasa kebebasan mencintai sesama. Tanpa mengukur perbedaan.

Saya mencintai Anda. Karena berbeda adalah pemersatu.

“Peace must begin with each one of us. Through quiet and serious reflection on its meaning, new and creative ways can be found to foster understanding, friendship and co-operation among all people.” (Javier Perez de Cuellar, Secretary General of the UN, September 1986).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: