Setyo Pamungkas

Officemates

Posted in Uncategorized by Setyo on January 12, 2017

merekaPagi-pagi sudah sampai kantor dan sudah menatap kotak kecil berwarna abu-abu, lalu kotak kecil itu langsung teriak: “TERIMAKASIH” dan legalah saya. Di kotak itu terdapat sebuah layar kecil, menampilkan angka 06:23. Secepatnya saya buka kamera smartphone merek Xiaomi milik saya dan ‘shoot’ segera. Wah… bahagianya, foto terambil. Tak lama saya kirimkan foto mesin abu-abu ke teman-teman via group WhatsApp.

Ramailah chatting di group WhatsApp.

Dan saya cetak rekor hari itu sebagai yang pertama datang ke kantor (tentunya setelah Pak Boss), hehehe. Setelah meletakkan tas di meja kerja, saya kembali ke ruang depan. Hendak menunggu kedatangan teman-teman lain sambil berlagak. Ya, sayalah penguasa pagi hari di kantor (abaikan Pak Boss yang sudah hadir duluan). Tak lama salah seorang datang dengan motor macho tapi ada tempurung hitamnya. Dengan senyum playboynya, diparkirnya motor itu, lalu dia buka helm dan langsung menghadap kotak abu-abu tadi. TERIMAKASIH, gegar si kotak. Setelah dia, datanglah si Mahmud muda dan tangan berpisang. Lalu si tukang tanaman Ampel, pedagang lampu (-taman) dari Ungaran, pembantu pedagang lampu, Mahmud lain yang suka panic, anggota ormas garis keras yang cherrybelle minded, Mahmud lain yang ngaku mahasiswi universitas gak jelas, ada lagi agen perubahan yang big size aneh, dan pelaku analis yang sok ketertiban absen (dia ini yang suka mencurangi kotak abu-abu)…

Dan berkali-kali si kotak abu-abu itu teriak TERIMAKASIH.

mereka lagiDan berikutnya…dan berikutnya… semua teman-teman hadir di kantor. Yaaaakkkhh… hari baru di kantor mulai lagi. Ramai lagi. Apel lagi sambil foto-foto, selfie, welfie, yang membuat abai apa instruksi Pembina apel. Ceremony pagi selesai, secara berkelompok, kami pergi ke tempat kerja ‘favorit’ di pagi hari. Tempat kerja dimana tersedia gorengan dan nasi plus lauk-pauknya. Kerja kami apa pagi hari? DISKUSI… bahan diskusinya ajaib: semua gossip yang dikumpulkan dari kemarin. Ah, kami cukup ahli melakukan pembahasan tanpa makna… menyimpulkan tanpa arti,….

Sekiranya beberapa jam diskusi kami ditemani makanan penuh lemak jenuh, kami kembali ke kantor kami yang sebenarnya. Setiap kami kembali ke meja kerjanya masing-masing. Lalu melahap apa kewajiban kami di hari itu. Saya? Tentu saja kembali ke meja dengan komputer tersambung SSID69 dan….. download. Film…mp3…baca berita di internet (kebanyakan yang bertopik entertainment).

Kerjaan saya yang lain adalah mengamati teman-teman. Siapa tahu butuh bantuan. Tapi, kebanyakan teman-teman yang saya sebutkan di atas, sudah ahli dan pintar bekerja. Saya cukup membantu doa. Kadang-kadang hanya ajak si teman-tanpa-mantan untuk main PS yang sudah terinstall dengan manis di PC meja kerja saya. Efektif mereka bekerja mungkin cuma selama 2,5 jam. Itupun juga sambil nge-gossip. Tengok kiri kanan depan belakang atas bawah dan saling olok alias puji memuji penuh kepalsuan. Kadang perbedaan kami digunakan sebagai guyonan tanpa ending. Ketawa lepas selama bekerja sudah biasa. Apalagi pura-pura perhatian, sok-sok membantu, gaya mendukung pekerjaan penuh kesemuan. Yah, suasananya sungguh gempita.

Hal itu hanya bertahan beberapa saat, karena si pemegang aliran laparisme sudah mulai tidak nyaman (Laparisme: paham untuk merasakan lapar sebelum waktunya, perut mudah kosong, cenderung kasar dan emosional, dan suka mengajak makan sebelum selesai pekerjaan). Aliran ini sungguh dahsyat. Pengaruhnya sangat terasa ketika jam dinding berdetak di angka 11. Ketuanya (mr kumis) dan anggotanya (setidaknya ada dua yang saya kenal baik: Mahmud bertangan pisang dan Mahmud termuda gedhe di pinggang ke bawah), sudah mulai kasak-kusuk.

Hebatnya, mereka dapat merubah arah mental teman-teman hari itu. Semua menjadi ikut lapar! Mengerikan…tak lama si Ampel karbitan itu mulai gerah juga dengan mengajak ke 0711, yang murah meriah. Ckckckckck…untungnya saya tidak pernah terganggu. Hemmm keteguhan hati dan ketegaran jiwa saya mampu menangkal aliran itu. Tapi, demi kebersamaan, saya memutuskan untuk turut serta menginisiasi gerakan pergi makan.

Biasalah, sebelum berangkat, kami bertengkar hebat. Saling menciderai pikiran dengan ide-ide palsu tentang ajakan: ‘mau makan dimana?’. Semua saling melempar tanggung jawab. Apalagi anggota aliran garis laparisme tadi. Sampai di dalam mobil dan dalam perjalanan pun, kami semua tidak merasa bertanggung jawab atas hal itu. Semua itu berakhir ketika saya ambil keputusan. Yakni; saya setuju dimanapun tempat makannya, “ya…gimana ramainya kitalah…” ucap saya waktu itu. Lalu makin absurdlah jiwa kami. Hanya hujatan dan olok2an kejam satu sama lain.

Ah, sampai makan selesai dan kembali ke kantor pun suasana itu terbawa.

Sampai di kantor lagi. Dan kami mulai sok sibuk lagi. Belagi-lagi mereka...berapa beribadah siang. Selesai ibadah pekerjaan khusus kami lanjutkan. Ada yang pura-pura mengetik. Ada yang download film korea, ada yang nonton korea sambil nangis, ada yang utek-utek uang tak jelas. Ada yang berdagang. Ada yang pura-pura bikin kartu tapi nggebet tamu dengan pesona arangnya. Ada yang input data perencanaan sambil kemalasan. Ada yang Cuma menunggu lawan di pojokan…..

Semua dilakukan sambil berkicau sana sini sampai tiba waktunya apel sore. Bahkan tanpa perlu ajakan langsung, kami bisa mengobrol di lobby yang bersofa untuk sekedar mempertarungkan banyolan dan bergaya malas-malasan. Alasan utamanya adalah karena jam setelah makan siang adalah jam yang tidak efektif untuk melakukan pekerjaan penting. Apa artinya bekerja tanpa niat tulus dari hati?

15.30 saatnya apel siang dan di situlah untuk terakhir kalinya kami saling tatap dan menghadap kotak abu-abu. TERIMAKASIH terulang kembali, menandakan saatnya pulang ke rumah masing-masing.

Lalu kami bersepakat meninggalkan kantor bersama-sama. Tak ada yang tertinggal, terkecuali kenangan hari itu. Kami bawa sampai lelap tidur dan meyakini akan ada hari esok yang lebih seru.

———————

Hari itu menjadi salah satu hari yang diingat. Bukan karena momentumnya menarik, tapi hari itu tak lebih berbeda dengan hari-hari lainnya di kantor. Setiap hari seperti petualangan yang sama dan berulang. Menarik untuk terus dinikmati.

Tapi, sepertinya hari itu berakhir sebagai kenangan. Hari itu sudah menjadi bagian indah dalam otak saya yang masih kurang penuh untuk diisi dengan hari-hari seperti itu. Sekarang ini hari seperti itu bakalan sulit terulang.

Mengapa? Adalah kewajiban yang berbeda yang kemudian memisahkan kami.

Saya sekarang seperti sendirian dalam ruangan 7×5 meter. Sepi.

Kata orang, terasa sakit kalau tahu bahwa yang selama ini nyaman sudah tidak dirasakan lagi. Rasa sakit baru dirasakan setelah kehilangan. Ya. Saya terhilang dari momen indah bersama-sama dengan kawan-kawan. Berat rasanya memulai hal yang baru tanpa mereka. Tidak ada lagi perasaan yang sama yang seperti hari itu. Semua sudah berhenti. Tidak ada bahan gossip. Segalanya sudah jauh berbeda.

Senyum teman-teman masih saya tunggu, dan takkan menyerah untuk mendapatkannya lagi. Seharian bersama mereka seperti cepat berlalu. Ternyata sakitnya cukup mengena. Ruang baru ini tak cukup mendinginkan rasa emosional saya. Teman seperti mereka tak dapat tergantikan dengan yang lain. Sekarang mereka menciptakan lubang besar berisi memori-memori yang terlalu sedikit. Dan terasa sakit.

Ah, sudahlah, sudah. Cukuplah saya yang merasakan. Hidup masih harus tetap berjalan kan? Nafas masih ada kan? Masih ada kesempatan lain bersama mereka kan?

Ya mereka terlalu istimewa untuk ditinggalkan. Tapi keharusan ini harus saya kalahkan. Saya tak mau lagi mengenang mereka dalam luka, tapi memeluk mereka dalam kebahagiaan. Meski sekarang harus banyak bersabar.

Tenang kawan, kalian semua ada selalu di sini. Bersama-sama. Rinduku selalu ada untuk kalian teman-teman keji-ku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: