Setyo Pamungkas

Indonesia Tanpa Malu

Posted in Hukum (Law), Media by Setyo on January 19, 2017

Sejak era jaringan internet, gawai, dan teknologi informasi berbasis online berkembang pesat, ada banyak sekali perubahan sosial dan masyarakat yang terdorong oleh hal tersebut. Sampai pada suatu ketika, kemajuan teknologi informasi meruntuhkan dominasi hal-hal positif. Dan hari ini, makin banyak berita-berita palsu (hoax) yang membanjiri linimasa di jejaring sosial online.

Memanfaatkan teknologi informasi via online/internet merupakan kelaziman yang dilakukan oleh generasi muda Indonesia sekarang ini (atau umumnya disebut Generasi Y). Generasi ini memberikan kontribusi yang besar pada proses terjadinya perubahan sosial di dalam masyarakat. Sudah menjadi umum adanya bahwa internet adalah kebutuhan bagi masyarakat Indonesia, yang terlihat dari lalu lintas data di Indonesia yang cukup tinggi. Akses masyarakat terhadap informasi tidak lagi terhalang oleh batas-batas fisik, seperti berita di surat kabar yang periodik, dan bahkan internet telah mengalahkan media elektronik (televisi dan radio).

Tidak hanya itu, semua orang dapat menjadi ‘sumber berita’ di jaringan online. Kemudahan membuat website, atau menggunakan jejaring sosial, menyebabkan informasi mudah juga disalurkan (bahkan diciptakan). Hampir setiap topik bahasan (sekarang ini) yang membahasnya saling serang. Baik dan buruk bukan lagi dipandang dalam ukuran etika, namun dijadikan senjata mengolok-olok yang lain. Setiap berita yang disebarkan, mendapatkan perhatian yang berbeda-beda. Sumber-sumber berita online, video online, kutipan online, jejak-jejak online makin memikat.

 

Dimana Cover Both Sides?

Tidak lagi jurnalis atau pencari berita bersaing dengan jurnalis yang lain. Gegar citizen journalist telah menjadi competitor yang sungguh-sungguh diwaspadai. Bukan soal presisi berita, namun tentang ide-ide dan gagasan-gagasan kaum citizen journalist yang wajib disanggah dengan akurasi informasi. Kaum pemakai internet menjelma menjadi jurnalis amatir, yang menampilkan berita dan informasi dengan gayanya sendiri. Sedang mereka yang professional harus mengembangkan diri lebih kritis serta menggugah kesadarannya akan perubahan sosial masyarakat di media.

Kaum profesional di bidang jurnalisme, bekerja cukup keras untuk meremajakan informasi, agar apa yang diperoleh masyarakat merupakan informasi yang aktual, akurat dan dijamin melalui lembaga-lembaga yang menaungi jurnalis bebas dan independen. Suatu berita yang valid, dapat diuji kebenarannya dengan menjamin sumbernya, substansinya tanpa berlebihan, dan bisa diklarifikasi. Bahkan berita atau informasi yang hendak diketahui kebenarannya adalah dengan memberikan kesempatan para konsumennya untuk saling verifikasi. Untuk mendukung kebenaran data dan informasi yang disebarkan, penyedianya wajib memperhatikan prinsip cover both sides.

Di dalam melakukan pemberitaan, yakni dalam menyebarkan informasi, harus ada keseimbangan berita. Maksud dari keseimbangan ini, menempatkan suatu berita/informasi secara berimbang antara fakta dan opini, tanpa vonis dan penerapan asas-asas keadilan. Cover both sides bermula dari pemahaman bahwa apa yang disampaikan melalui pemberitaan harus dipahami makna tanggung jawabnya. Artinya bahwa cover both sides mendorong adanya suatu bentuk tanggung jawab yang tepat dari media, terkait dengan pemberitaan yang disebarkannya. Pertanggungjawaban ini lebih menunjuk pada substansi informasi, yang menuntut adanya keseimbangan antar para pihak yang berkepentingan dalam substansi tersebut. Konsep ini yang membawa ke arah keseimbangan, media balance atau news balance atau konsepsi sederajat dengan menitik beratkan pada adanya berita/informasi yang seimbang. Keseimbangan itu pula yang kemudian identik dengan adanya keadilan berita yang dibutuhkan konsistensinya.

Cover both sides menepikan kebebasan tanpa batas. Kebebasan memang diterjemahkan melalui publikasi yang bebas, namun yang menyebarkan harus menyadari bahwa keseimbangan berita itu diperlukan demi adanya rasa keadilan, dimana Stephen J. A. Ward berikut menyatakan bahwa:

“…These values are needed to circumscribe and limit journalistic freedom. Put more positively, they are needed to guide the responsible use of the freedom to publish. The callange for media ethics is to say how to balance press freedom with other values such as equality, fairness, and reliable information in a rapidly changing media environment.” (Stephen J. A. Ward, Ethics and the Media: an Introduction.Cambridge University Press; Cambridge, 2011. Hal. 90.)

Bahwa keseimbangan diperlukan untuk mewujudkan rasa tanggung jawab pelaku media agar informasi yang disebarkan selalu menempatkan dua hal, kebebasan berekspresi namun dilaksanakan secara bertanggung jawab. Menyeimbangkan antara kebebasan dan nilai-nilai yang hidup di lingkungan media, termasuk di dalamnya ada rasa keadilan, kesamaan serta rasa percaya yang dikelola secara tepat. Pemberitaan melalui cover both sides  tidak hanya menekankan pada kuantitas saja, namun juga kualitas dan orientasi masalah dalam berita tersebut harus menyeimbangkan kepentingan kebebasan dan pasar media.

 

Melawan Hoax

Rasa takut muncul ketika berita dan informasi yang menyinggung ranah fitnah atau palsu atau kebohongan, disebarkan melalui media apa saja. Yang tren dan mudah dilakukan oleh penyebar berita adalah melalui lini masa jejaring sosial. Twitter, Facebook, Instagram, dan lain sebagainya, tidak lagi melulu dimanfaatkan untuk kebaikan, namun digunakan juga untuk menyerang satu sama lain. Hal ini mendorong masyarakat bergerak ke arah yang justru tidak mendewasakan moral, akan tetapi bersikap bermusuhan satu sama lain, dan pada akhirnya menimbulkan ide-ide perpecahan dalam masyarakat.

Pro dan kontra memang bagian menarik ketika suatu informasi disampaikan kepada khalayak. Klarifikasi dan verifikasi tidak mudah dilakukan bilamana masyarakat sudah terlanjur percaya dengan berita yang tidak benar. Tidak hanya konsumen, tapi penyedia informasi dan berita harus kemudian peka terhadap respon masyarakat. Cover both sides harus menjadi salah satu prinsip yang dapat dikedepankan. Kepercayaan masyarakat atas sumber informasi yang kekinian, dapat dimanfaatkan oleh jurnalis untuk memberitakan melalui dua sisi yang berlawanan. Inilah yang disebut dengan independensi jurnalis. Tanpa mengesampingkan prinsip pembatasan kebebasan media, jurnalis dapat melakukan perlawanan bersama masyarakat (yang mempercayainya) untuk menghilangkan hoax.

Melawan hoax tidak selalu dengan menghadirkan pembeda, namun perlawanan dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas substansi pemberitaan yang berujung pada akurasi dan validitas. Kehadiran narasumber yang saling pro dan kontra, menempatkan informasi sebagai kajian media yang dapat diukur oleh masyarakat. Manakah kebenaran dan manakah kepalsuan. Mengingat pengguna layanan internet adalah sebagian besar kaum terdidik atau berpendidikan, maka secara normatif sebenarnya dapat dilihat opini yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat. Hoax dapat dicegah dengan kesadaran baru. Pentingnya kualitas berita.

——————–

Masalah hoax yang terlihat jelas, dapat dilawan dengan menetapkan standar-standar yang dapat menyebabkan suatu berita yang disampaikan menjadi berimbang, tidak berat sebelah atau berpihak pada aspek tertentu. Akurasi mengikat sebuah produk media, tidak hanya seimbang saja. Masalah muncul ketika ketaatan dan kepatuhan pada prinsip-prinsip (termasuk cover both sides) tidak dapat dipenuhi secara utuh, sehingga ada kemungkinan bagi timbulnya persepsi yang tidak tepat pada hal-hal yang berkaitan dengan informasi dan berita yang disampaikan. Artinya bahwa ada kesulitan tersendiri ketika berita diperhadapkan pada bagaimana memberikan proporsi yang sama bagi semua pihak yang berkaitan dengan berita tersebut.

Cover both sides sebagai salah satu prinsip di dalam penyelenggaraan kebebasan media, secara teori memang sukar untuk didefinisikan secara akomodatif, sehingga ada beragam pemikiran tentang konsep ini. Akan tetapi perlu dipahami juga bahwa konsep cover both sides memiliki implikasi besar pada aktivitas media yang lain. Alasan keseimbangan mungkin memang menjadi satu-satunya, namun lingkup keseimbangan itu secara luar biasa harus dirunut dan dibingkai sebagai mainstream media. Standar-standar kode etik yang terdapat pada penyelenggaraan media, melibatkan tidak hanya keberpihakan (stakeholders), juga harus melibatkan akurasi dan imparsial dari eses media itu. Proporsi yang sama harus diletakkan dalam kerangka yang sama dan memiliki bagian koreksi yang sama juga bagi substansi akurasi bahan berita/informasi tersebut.

Ya, Indonesia tak perlu malu lagi membanggakan traffic data yang besar dan tinggu, bilamana substansi berita itu sungguh terjamin kualitasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: