Setyo Pamungkas

Putting Out System

Posted in Hukum (Law), Ketenagakerjaan by Setyo on August 14, 2017

Putting out system bukanlah hal baru yang dikenal dalam pelaksanaan produksi. Putting out system digunakan sebagai metode yang efektif untuk memudahkan pengusaha (dalam lintas produksinya) untuk menyederhanakan proses produksi, yakni mengurangi beban/cost yang terlalu banyak. Pelaksanaan proses produksi di perusahaan, menempatkan pengusaha untuk kreatif dalam mengembangkan potensi bisnisnya tanpa menanggung beban berlebih. Beban tersebut salah satunya yang sangat signifikan dalam alur proses produksi, adalah biaya upah/gaji bagi pekerja/buruh dalam hubungan kerja. Putting out system sebagai metode, yang merupakan bentuk sub-kontrak komersial maupun industrial.

Berkembang sebagai upaya, maka putting out system dapat diklasifikasikan dalam dua model:

  • model sub-kontrak komersial: menempatkan perusahaan (kontraktor) yang menjalankan produksi, tidak turut serta dalam proses produksi secara nyata.
  • model sub-kontrak industrial: pengusaha (kontraktor) terlibat dalam proses produksi. Pedagang atau produsen dapat berfungsi sebagai kontraktor. Produsen akan bekerjasama dengan subkontraktor untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu di dalam keseluruhan proses produksi. Sementara pedagang dapat mengatur produksi dengan menggunakan sub-kontrak perusahaan/perseorangan (yang dipilih/terpilih) untuk memproduksi sesuai dengan standar tertentu yang ditetapkan.

Dua model tersebut secara kategorial menempatkan pengusaha asli (principal) untuk berpartisipasi dalam dua cara: turut serta dalam produksi atau hanya sebagai subyek yang menetapkan standar produksi tertentu. Secara definisi, Surtiyah berpendapat bahwa putting out system merupakan sistem untuk mengatur, mengendalikan, dan memobilisasi proses produksi dan hubungan produksi dari bahan mentah menjadi barang jadi yang dilakukan di luar perusahaan (Surtiyah, 1997; 224). Dari perusahaan, pekerjaan dibawa ‘keluar’, yakni dibawa dan dikerjakan oleh pekerja (yang merupakan pekerja organik perusahaan), untuk kemudian dikerjakan di tempat yang dipilih sendiri (umumnya ada di rumah pekerja itu sendiri atau sekitarnya). Oleh karenanya, pekerjaan itu dapat pula dikerjakan oleh mereka yang memiliki hubungan di dalam rumah pekerja (baik istri, anak, atau yang memiliki hubungan keluarga lainnya), yang kemudian dalam sistem ini disebut juga sebagai pekerja rumahan. Disebut sebagai pekerja rumahan karena tenaga kerja yang menerima pekerjaan dari pengusaha tanpa ikatan kerja formal, membawa dan mengerjakannya di rumah, tanpa supervisi, menyediakan sendiri fasilitas kerja, menanggung sendiri resiko produksi serta menerima upah kerja berdasarkan satuan output (borongan) menurut ukuran sang pengusaha.

Masalah

Kompleksitas rantai produksi,  perdagangan dan perkembangan ekonomi global, membuka peluang beraneka lintasan bahan baku yang dipasok, adanya kompetisi biaya murah untuk produksi, serta persaingan ekonomi. Dengan keadaan yang demikian, industri, khususnya manufaktur, putting out system menjadi salah satu jawaban, yakni justru menjadi akhir dari rantai produksi.

Keadaan yang demikian mendatangkan ‘perantara’ untuk ikut ambil bagian dalam perjalanan produksi. Perantara produksi masuk untuk menghubungkan antara principal dengan pekerja rumahan dalam putting out system, yang berakibat pada kecilnya peluang pekerja rumahan/putting out system yang melaksanakan pekerjaan, untuk mendapatkan upah/keuntungan ekonomis yang memadai. Kerja rumahan yang demikian, dapat dikategorikan sebagai  putting out system industrial, yakni bahwa pekerja melaksanakan pekerjaan yang serupa dengan pekerja pabrik, namun dilaksanakan di rumah mereka masing-masing. Dorongan utama adanya pekerja jenis ini, adalah respons pengusaha untuk menghindari biaya dan resiko yang biasanya ada terkait dengan mempekerjakan tenaga kerja sebagaimana biasanya.

Peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan belum mampu menjangkau pekerja dalam ranah putting out system oleh karena sistem tersebut melalui mekanisme-mekanisme informal, yang umum menjadi kebiasaan. Dampaknya adalah mereka yang menggunakan sistem ini tidak dapat diakomodasi kepentingannya secara langsung oleh pemerintah/negara dan juga bukan merupakan penerima manfaat program-program yang diselenggarakan oleh negara, baik umum maupun khusus.

Putting Out System Berbasis Gender

Pekerja dalam kerangka putting out system, merupakan bagian integral yang berada pada komunitas sosial atau hidup di lingkungan masyarakat yang tidak mudah teridentifikasi secara kasat mata. Dengan demikian, kelangsungannya menyatu dengan kehidupan masyarakat, sehingga sukar ditemukan dan dianggap sebagai suatu aktivitas normal di dalam rumah. Pada umumnya, kaum laki-laki menjadi pribadi yang keluar mencari nafkah dan kaum perempuan hidup tinggal di dalam rumah.

Karena lebih sering tinggal di rumah, maka perempuan (dipahami melaksanakan kodrat), menjadi pemeran utama di putting out system atau yang kemudian sering disebut sebagai pekerja rumahan. Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari model putting out system yang melekat pada nilai dan budaya di dalam masyarakat. Dalam sistem budaya yang hidup di masyarakat, perempuan sering dituntut untuk tinggal di rumah (domestic), sehingga pekerjaan dengan model putting out system atau pekerja rumahan adalah alternatif yang paling logis dan tepat. Dengan demikian, perempuan dan subyek lainnya terkait, yang melaksanakan pekerjaan ini, tidak perlu meninggalkan rumah untuk bisa tetap produktif.

Hanya saja, keadaan yang demikian menyebabkan jangkauan perlindungan sangat terbatas untuk masuk ke ruang-ruang hubungan kerja yang samar-samar dan hidup di dalam masyarakat. Kehidupan masyarakat yang menempatkan kaum perempuan di tempat yang berbeda dengan kaum laki-laki. Selain itu, perempuan dianggap lebih mudah diajak bekerja sama dalam kerangka putting out system, karena perempuan lebih mudah menyelesaikan pekerjaan dengan cara sampingan.

Tanggung Jawab Hukum

Sistem ini pada umumnya diselenggarakan melalui hubungan yang non-formal. Akibatnya, yang menentukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah soal trust atau model kepercayaan satu dengan yang lain. Namun ini dilaksanakan melalui ‘perantara’ yang menghubungkan antara pekerja pada ujung akhir putting out system dengan pengusaha atau yang memiliki hubungan langsung dengan pengusaha dalam arus produksi. Dengan demikian, tanggung jawab pemberi kerja utama dan perantara terhadap pekerja putting out system, menjadi sulit untuk dilacak.

Demikian halnya, pemegang tanggung jawab yang paling utama dalam hubungan ini, sulit untuk dituntut untuk memenuhi kewajibannya memberikan perlindungan terhadap hak-hak pekerja, apalagi hak-hak dan kewajiban pekerja sesuai peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Jaringan dan rantai produksi yang rumit menyebabkan kondisi kerja dan hak atas upah bagi pekerja, sulit ditelusur bagaimana kelayakannya. Hal ini juga menyebabkan pengawasan dan memastikan pemenuhan standar ketenagakerjaan, tidak dapat dikelola dengan baik.

Putting out system kurang mendapatkan perhatian, dikarenakan keberadaan pekerja/buruh (atau yang melaksanakan bagian-bagian produksi), ada pada kalangan usaha yang menengah dan bahkan mikro. Selain itu, hubungan ekonomis yang kemudian memunculkan hubungan antara pengusaha dengan pekerja dalam bentuk hubungan kerja yang kabur, seringkali didasarkan pada hubungan kekerabatan sosial, ikatan kekeluargaan, masyarakat, dan sosial. Interaksi ini berlangsung secara non-formal, yang sangat sukar merekonstruksi hubungan kerja formal yang mengandung hak-hak, peran dan tanggung jawab hukum.

Putting out system berkembang pada usaha yang berkaitan dengan pengusaha pada operasional yang berskala kecil/mikro. Pekerja mandiri atau pengusaha tingkat mikro, sebagian besar bergantung pada sejumlah kecil pemasok dan/atau pembeli. Akibatnya, terjadi ketidakjelasan perbedaan antara kewirausahaan mandiri dan hubungan kerja. Status hubungan kerja yang berbasis pada putting out system tidak dapat diklasifikasikan atau didefinisikan sesuai dengan standar ketenagakerjaan. Hubungan antara pekerja putting out system dengan pemberi kerja (yang merupakan produsen atau pedagang) sering terlihat sebagai hubungan komersial dibanding hubungan kerja. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk untuk mengalihkan resiko dan tanggung jawab pada pekerja rumahan atau diakibatkan oleh pengaturan kerja pekerja rumahan.

Persyaratan bagi pekerja rumahan untuk mengadakan peralatan, perlengkapan atau bahan sendiri; kurangnya pengawasan langsung atas pekerja rumahan saat mereka menyelesaikan pekerjaan mereka; kemandirian pekerja rumahan untuk bekerja sesuai dengan jadwal mereka sendiri; tanggung jawab yang dipikul oleh pekerja rumahan atas kualitas output; dan, dalam beberapa kasus, kemampuan pekerja rumahan untuk mempekerjakan tenaga pembantu tambahan dalam pekerjaan mereka, dapat membuat hubungan antara pekerja rumahan dan pemberi kerja tampak sebagai hubungan komersial (hubungan dagang).

Bagi mereka para pekerja dalam ranah ini, ada kecenderungan untuk mengalami suatu kondisi yang sangat eksploitatif, misalnya bekerja selama berjam-jam, upah yang diterima tidak sebanding dengan upah minimum, dan bahkan pekerja/buruh sedikit atau tidak memiliki daya tawar serta tanpa kepastian akan keberlangsungan kerja. Beberapa indikasi yang dapat memicu persoalan diantaranya adalah tidak kondusifnya tempat bekerja, upah rendah, kurangnya perlindungan sosial dan kondisi kemiskinan secara umum yang memberikan pengaruh perkembangan putting out system.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: